Jumat, 29 Juni 2012

manis, asem, asin, gurih....xixxix


Pernah sengaja membuka catatan lama,
Tentang 'rasa'...

Di sebuah bangku taman yang mulai berkarat
Disaksikan indahnya warna lembayung senja
Dalam heningnya suasana

Aku meminta,
Kau menerima,
Sambut hangat...

Manis, asem, asin, gurih...
Rasanya

(xixixix, aku tertawa sendiri membacanya)

itulah...ciuman pertama
..

"Hayooo!!!" bentak dari belakang sambil menyahut diarynya
"Emang yang pertama untuk siapa, kak?" ledekku
dan dia memukulku kepalaku dengan diari itu
"Sana!!!, mau tau aja,...arek cilik sok-sok an.." usirnya sambil menutup pintu kamar

hiyyaa..
Aku wes gede lah....

Kamis, 28 Juni 2012

:: KERINDUAN,


Tatanan perasaan yang tak tergambar
Bahkan oleh torehan kuas dari sang pelukis
Tatanan jiwa yang tak terkata
Bahkan dari syair-syair milik pujangga tak bernama

Membuat raga kuat menjadi lemah,
Melemahkan kepak-kepak sayapnya
Hingga tak mampu terbang tinggi 
Terjerembab...terhempas jatuh dihadapan

Biarkan senandung rindu
Selalu menemani khayalku
Biarkan percakapan dingin pada dinding
Menyaksikan segalanya..

Yang tau hanya rindu antara aku dan kamu..

BILA SEMPAT...


Betapa sayup aku mendengar suara itu
Kepada jiwa yang selalu bertanya
Lirih nafas mu menjawabnya
Pada do'a yang beku di balik ruang waktu

Tentang rinai hujan
Tentang beningnya embun 

Menyibak sedikit rona biru,
Berhenti pada sudut sembilu
Pada titipan tangisan tidur di kala malam
Dan nyanyian mimpi di denting kelam

Ohhh...

Bila sempat waktuku, sebelum santun berucap
Pada kerinduan anganku,
Bawa kembali bahagiamu,
Sertakan juga keindahan yang kau ciptakan
Sisakan sedikit untukku
Karena aku akan merangkainya menjadi kalimat sendu

Dengarlah pertanyaanku??
Maukah sedikit berikrar untukku,
Padanya yang kelak mendiami ruangku,esok, nanti
dan mungkin selamanya....

Bila sempat ijinkan aku mengecupnya
dalam kening sekali dalam sisa ceritaku.

Rabu, 27 Juni 2012

ini tentang


ini tentang...

pertama akan diam
kedua benar-benar diam
ketiga telah diam
keempat sungguh terdiam

kelima...

merasakan, diamnya.. tenangnya
seperti aliran sungai kecil
meneruskannya sampai ke muara

Selasa, 26 Juni 2012

berhenti...melanjutkan kisah

Andai cerita bisa kulanjutkan tak cukup rindang 
dedaunan meneduhkan kisahku

Jari jemariku memilin merangkai kata, 
bak terjuntai menguntai mayang terurai
Ungkapan lukisan diri pada bait puisi

Pada batas senja kulayangkan tanya,
Mengapa sukma ku tak tersentuh rasa

Mencari batas sunyi pada serpihan resah
Sampai kutemukan halaman hilang dari lembaran kisah


Senin, 25 Juni 2012

Men Cinta imu dengan sederhana

Ku katakan padamu senja itu,
sebelum kau beranjak dari wajah mega.
Kenapa kau begitu kuat menyentuh sukma
Kenapa nada yang kau ciptakan tak sumbang

Tanpa jawab,
Hanya wajah muram yang kau biaskan.

Jika saja aku bisa memberi mu setitik embun
Jika mampu aku memberi sentuhan sukma tanpa prahara
Jika makna dinding itu tak bersekat
Jika gema itu hanya satu suara

Tentang kamu...aku mampu

Tanpa suara,
Kau terdiam di balik permainan jemari

Resah...

Saat lembayung senja mulai terbuka,
Ucapmu tak terhiraukan lagi
Bagai bicara aku di ujung mimpi,
Terpana menatap siang, sembunyi dibalik malam

Untukmu pemilik jiwa indah, dengan satu panah
Kau tepat memasang busurmu, tepat pula mengujam anaknya kesanubariku
Namun...
Ku ingin indah pula memaknainya
Memaknai satu perasaan dengan penghargaan jiwa abadinya


Buatku kau sajak indah yang tak terbaca
Kau goresan indah penuh makna
dan...
Kupetik sajak dari sang pujangga pula,
Untukmu, sekilas rasa dari rasa sebenarnya.

***

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...
Seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu...

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...
Seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..."

***

Itu saja...

:: YANG TAK BERBALAS ::


Direlung menggema nyanyian suka cita
Senandung lirih berhembus di hati
Sampai tak patut tinta mengukirnya
apalagi kuas menggores setiap paduan warnanya

Ia meneguk dalam setiap rasa kasihku
Rasa sayang mengalir di sanubariku
Namun tak tersentuh untuk bibirku
Saat desahannya lirih membahana
Bimbang berbaur dengan istana fatamorgana

...

Untuk siapa aku mengatakannya?
Kepada siapa pula ku lantunkannya?

Dia tersimpan di sudut hati
Tak terlentera, tak tersirat rapi

Risauku kau terhempas
Bayangnya memudar bersama cahaya yang nanar
dan
Bilamana kusentuh ujung bibirku
Terasa getar kehadirannya
Sentuhan jemariku saksi bisu hadirnya

Seperti genang sungai bening
Pantulan cahaya bintang dalam gelapnya malam
Air mata syahdu, 
Seperti butir-butir embun i pucuk daun

Tulisan ini gubahan hati
Diperuntukkan pada kesunyian
Dikumandangkan pada jiwa kerinduan
Dinyatakan oleh mimpi dalam bayang-bayangan
Yang bisa terpahami dengan cinta
Tersembunyi pada terangnya siang
Bersemi pada malam merajang

Gubahan kasih sayang
Bait kilas cinta tak terbalas
Dengan siapa berani bertatap hati memecah sunyi
Pun dengan abaikan cinta??

Minggu, 24 Juni 2012

Pinta II


Tuhan ...

Malam ini kau kirimkan rinai, 
derai lembutnya cukup mengingatkan satu nama,
pada perih yang berbatas ruang dan waktu.

Tuhan ...
Engkau Maha Tau, bagaimana tentang rasaku
Mengapa dalam tidurku kau hadirkan rindu
yang setiap kerap kuemban di sisi bahu

Tuhan ...
Izinmu, kau tumbuhkan keajaiban kecil itu,
Meski ku tau nanti akan ada akhir saat menunggu.



**
Setelah pinta itu, kuhitung kembali langkah kaki saat menyentuh embun. Sejuk menjalar sekujur raga, saat sentuh lembut di ujung rerumputan menyawa.
Senyum kupaparkan kembali, menanti pelangi. 

Betapa aku bahagia, masih menemukanmu di sana.

Pinta


Tuhan...

Engkau telah mengguratkan mega di antara senja
Pun telah temani fajar di timur paginya
Berikannya bahagia sebelum duka menyapa
Pun sabar setia pada riak gelombang dan lautnya

Pertemukan pertemuan esok pada air mata yang kami tangisi
Pada bahagia tentang kisah letih penantian ini

Beri kuat kekuatan bertahan, 
dalam deru dan resahnya perpisahan.

Jumat, 22 Juni 2012

Tenggelam...dan seketika lemah mati


Maka jika mampu,
Kualamatkan setetes rindu pada kelam
Yang tak mampu lagi kusampaikan pada malam
Sebab kalbu tak lagi sendu

Pada bintang kusematkan sinar
Sembunyi, menanti, menulis lagi.
Tanyaku padanya kembali,
Tataplah terangnya meski hanya sebentar

Jangan kau tanyakan percaya,
Jangan pula kau berkata aku ada
Kalau langit telah merubah warna
Kalau angin tak mengarakkan hujannya

Pula jangan tanya tentang lautan
Dalamnya tak mampu terperi,
Begitujuga hati,
Tenggelam...dan seketika lemah mati

Tak akan kuhentikan hujan, yang jatuh dalam pelukan
Tak kubiarkan bulan padam, karena mentari mengganti malam
Tanyakan pada hati, apa yang terjadi.
Enggan aku tak melihatmu lagi...

Menghentikan...



Sangka ketakutan benar
Dayungku tak bersandar dipelabuhan
Sepertinya kayuhanku tak terbantu layar
Menerjang pasang ayunan arus menepikan perlahan

Sedemikian nama itu rindu
Hanya sebentar jelujuri rajut kalbu
Sesaat pula kuubah haluan
Begitupun menikmati tentram tepian lautan

hhhh

Embun suci
Yang merelakan kisah perjalanannya
Begitulah tentang riak lirih cinta
Pun begitu suaraku yang tak berbahasa

Kamis, 21 Juni 2012

Saat pergi dan tak kembali pada jiwa resah...


Hidupmu...
Sisa perjalananmu
Karena musim telah mengenalku
Dan juga telah menautkan rindu

Hidupmu...
Warna yang menerangimu
Karena ada banyak cahaya dari biasmu
Dan itupun telah menggelarkan layar kalbu

Ada yang mengiris hati
Ada yang mengikis jejak
Sanubari berhentilah berdetak

Telah kutulis pada awan
Jika nanti akan berhenti
Kau bacakan sisi kisah dari bahagia ini
Saat engkau tak lagi sendiri

Izinkan senyumku merekah
Saat pergi dan tak kembali pada jiwa resah...

I want to go home,


Bawalah aku terbang, untuk aku pulang
Lewat derita, dan lewat cerita yang kuhapus
Dan lewat pucuk rindu yang tak kunjung mekar
Aku ingin menghentikan perjalanan

Bawalah aku terbang, untuk dapat pulang
Dari aroma malam di tanah kerontang
Dari lembar perlembar halaman yang tak mampu kujelang
Mendamba dari mimpi tertinggi, 
dengan do'a dan tulisan
Aku ingin melupakan jalan.

Lantas, detak detik waktu berbunyi. Menjadi terjaga dalam menara mimpi yang kubangan disetiap desahku. Pada denyut nadi, dan aliran darah yang mengalir dibilik aourtaku ku iramakan untuk meminta. Disimpang jalan aku pernah menyapa, di situ pula aku akan melambaikan. Dihitamnya warna aku telah melukisnya, maka hias aneka warna kulukiskannya. Tak perlu kunanti badai yang akan menghentikannya. Di atas satu cinta, di atas satu nama, di sebentuk hati aku menjelma.

Luluhkan rasa tanpa beda, Tuhan menghukumku atas rasa keliru, Tuhan mentasbihkanku dengan tumpukan sesal, menanti yang bukan dicari, menunggu dari kalbu yang pilu langkahku mati, berhenti disudut hati. Biarkan aku sejenak untuk berhenti menapak, sejenak saja bahkan mungkin selamanya. Sampai hitam benar-benar hilang.