Selasa, 18 Juni 2013

Semestinya

Gerimis tajam menghentikan hujan,
ketika pijak-pijak langkah kaki tak sanggup kulayangkan
dendang dari nyanyian malam digemakan
aku tak pulang!

maaf,
ketika aku tinggal sendirian
ketika itupula purnama dirundung kepiluan
disatu pelukan aku beringsut menghindar
ahh..padam pudar

tidakkah engkau (semestinya) indah? pamitku

tanpa memintamu
sekali lagi dipelabuhan kelam
biarkan aku berdiri menatap lautan dengan sayap yang kupegang

lamun putih tentangmu
lamun putih tentang seekor kupu-kupu

Kau Tau apa Ketakutanku ?

satu ketakutanku
adalah aku yang tak sanggup lagi memahami arti kehilangan
meski aku tau, semua seperti perputaran langit dan awan
bintang dan matahari, rembulan dan siang

satu kekosonganku
adalah ketika aku tak kuasa ditinggalkan kesetiaan
yang mengasuhku, yang menari bersama pada titik titik berbingkai mimpi

satu kehampaanku
adalah ketika aku dibiarkan membatu, mengering
di tengah ladang hijau diantara bening sungai mengalir
dan aku berkaca pada riak kecipak air sendirian

jadilah buih di lautan
yang tak pernah lelah menggulung meski badai memecah bebatu karang
bangunkan aku
...
bangunkan, meski pijak kaki melemah menjadi memoar terdalam.

aku menjadi sebuah risalah terakhir untukmu

Lembar untuk kekasihku

ini adalah lembar surat untuknya yang disampaikan angin,
dimana aku tak sempat menyampaikan padanya

kita berdua laksana sepasang manusia renta
tertatih, berjalan bergenggaman
mengikuti gemertak langit dan rembulan
hingga redup di kelam sang singgasana fajar

berdua kita menapaki pelan arah langit
menghimpun kalimat-kalimat angin di lembah
padang-padang gandum

takdirku kini berada lekat dihatimu
bahwa disetiap detak jantung adalah laku jalan gerak bintang kesaksian
takdirku kini menari di lingkar cahaya ketidak mampuanku
...
"entah, entah lah.."
aku enggan gundah, biarkan aku mengadu ihklas pada desah nafas yang kau hembuskan
biarkan aku terpaku membawa lembaran risalah yang tak bisa engkau maknai

untukmu,
berapa lagi kurangkum kalimat-kalimat sederhanaku, seperti kesederhanaan
insan dibarisan mega menyaksikan lembutnya bayu menggugurkan dedaunan

ahhh..
wajah rembulan, lewat selembar surat ini,
saksikanlah kesungguhan yang dikatakan hati
bahwa langitku kina enggan berbintang.


prosa terakhir kutulis
halaman terakhir lembar beradiasi
ah...
kamu majas dan aku