Rabu, 11 Juni 2014

JANGAN LAGI

Jangan, sekali lagi jangan...

Sebagaimana malam disana,
adalah tempat kita pernah bercengkerama
ketika tiap orang sudah berkanjang pada ruangnya masing-masing
kita seperti perjalanan siang yang gaduh

Rak kecil tempat biasa aku menyimpan buku masih terbuka
Seperti ada yang masih membuka dengan tulus kisah yang kita sembunyikan
Dimana tiap huruf adalah hati.

Sepi, gelap perlahan menulungsup pada langkah kita yang diam,
lalu...melontarkan kita untuk tetap tinggal di peraduan

Jangan sekali lagi jangan.
Bukankah airmata ini adalah ramuan, yang membuat cinta kusimpan baik-baik
meski sudut hati selayu luka.
Jangan, jangan biarkan ini tumpah...
kau tau artinya,....ahh, aku yakin kau memahaminya
suatu ketika nanti butiran ini terlalu lelah menampakkan diri,
maka aku akan pergi.

DITINGGALKAN MENINGGALKAN

Hidup ini memang tentang meninggalkan dan ditinggalkan
Akan ada cara dimana bisa lepas sekuat genggamanmu.
Yup....
Seperti perempuan pada satu taman
Begitu tabah merayakan kehilangan
Bukan dengan lontaran kembang api,
atau menerbangkan balon-balon ke udara..

"Aku terlalu letih, pada asa yang senantiasa kucari lekuk sempurnanya,
Dimana lekuk terindah sebuah cinta bersembunyi?
Dipuisinya, didalam dompetnya atau dilemari tempat dia menyimpan kemejanya?"

Tapi nek, bukankah itu sebuah kesetiaan?
tanya seorang gadis muda

Iya, kesetiaan yang tak cukup berani dikatakan
Berharap memiliki keberanian untuk menjelaskan,
bahwa sesungguhnya mencintainya lebih takut untuk suatu kehilangan dirinya.

Gadis itu menggenggam tangan perempuan itu renta itu.
Ada yang membuatku gemetar.
"Entah berapa puluh tahun lagi aku bisa
membaca sebuah kesetiaan,
Ketulusan yang kerap ditulisnya
tersimpan rapi disebuah kotak kayu ukiran", gumamnya dalam hati
Mau diapakan ini, nek.... kata gadis itu
membawa kotak kayu berukir

Mata perempuan itu menerawang,
Aku sanggup bertahan, meski mungkin nanti satu kepak akan menyeretku kedalam takdir. Kemarin dan hari tadi aku telah memintal aksara tanpa jemu, memilih sajak-sajak tilawahku.
Dan akhirnya kerapuhankulah yang bebas menari bersama keangkuhanku sendiri"
Jadi ambilah.
Buka dan bacalah.
Aku akan mengukirnya pada karang-karang dipantai,
pada batang pohon jati, berharap suatu nanti akan terbaca dan abadi

***
Ada hari dimana engkau akan sendirian
Mendekap bayang nun jauh berjalan
kadang gaduh
Kadang menangis
Kadang tertawa
membuncah, menulikan pekak telinga

Lantas, kau tak melihat airmata mengapung dikelopak mata..
Seperti mendekap siapa, aku lumpuh
Seperti menggandeng, aku hilang
Seperti memeluk, aku lenyap

Kini,
Ketika rindu menjadi tajam
Bibirku akan membiru
Kelak kulit ku menggembur
Dan cekung mata menjadi lebar

Aku hanya sepenggal kisah
yang tak bertuan.


* satu lembar puisi yang nenek simpan

Tertanda, DIBA