Selasa, 24 Maret 2015

KITA LIHAT SAJA NANTI!


Jujurku pada setengah lingkaran bulan
Sepi mungkin memecah jarak kesunyian
antara aku dan engkau
buntu otakku
inspirasiku berantakan

Jadimu, mempesona
menjebak kemudian membiarkan teriak

Jadimu, pengagum kosong
membuat takjub keangkuhan menara atau gunung tak tersinggahi

Yang ku katakan engkau menjadi sosok yang paling rasional
yang membuatku bertindak irasional

seperti merekam jutaan kerlip bintang
semesta memejam
membiarkan aku mengutuki kehadiran tiap malam

ah...kita lihat saja nanti

tik!

 
Baiklah, seperti memunguti kembali sisa jejak yang kau tinggalkan
aku akan membingkainnya menjadi kado kecil berpita merah muda

"Aku suka barisan kalimatnya, boleh kuminta?"
dan seperti menghapal kau tak menjawab
puisimu menjadi bait -bait bulan yang meninggalkan makna sunyi dan harapan.
 
...dalam mencintaimu
aku seluruh rahasia kecil

/kilometer dan jam dinding:

aku lupa seberapa banyak impian tak lagi dapat kukunyah, setelah ketukan sudut timur membuka jendela lalu tubuh bugil matahari menelanku
tik!
aku terlahir lagi dari suci rahimmu, waktu. Meski prematur
tapi mataku tetap kau puji sebagai kehadiran

/debu dan tumbuhnya pohon kaca:

betapa indahnya menjadi bibir-bibir berwarna
berbaris dengan kaki putih dan senyum nakal yang tak mampu kutuang kedalam liurku
”hai, lelaki asing!, sudah berapa kali hatimu mati tercabik sepi” mungkin itu jerit mereka didalam dada. oh, bahagianya melihatku melintas dengan senyum terjahit luka
aku tetap memacu mengejar bokong matahari yang semakin padat meninggi

/ruang pemukiman wajah pemuja beludru

mungkin aku butuh puluhan menit untuk berkhayal. Andai aku memiliki ruang sedingin ini, akan kukemas segala rindu. Kusisipi huruf-huruf mungil sejumlah langkah masalalu
kau cukup mengeringkan rambut basahmu dengan handuk berwarna merah jambu
aku kembali menjebak hasratku

/pecah:

sudah. Sudah kupecahkan semua isi pikiranku baru saja di aspal hitam, didekat jembatan penyeberangan halte kota puisi. Dan tak lupa semangkuk bubur ayam telah membuka dompetku dengan paksa

ah, aku tumbuh lagi menjadi kekasihmu
tak berganti
tak terganti
seperti bisikanmu, ”jaga kesehatan, aku sayang kamu”
-sas-

SURAT TANPA PENGIRIM part 1


Setengah dari keinginanku hanya sederhana, seperti ribuan sajak yang pernah kutulis.
Seperti pertanyaan yang kerap kutanyakan padaku sendiri, pada nurani....

Aku membutuhkan keberanian, sedikit saja...hanya sedikit
untuk mengungkapkan, untuk sekedaar berkata bukan tulisan 
karena JELAS kau akan begitu sulit untuk memahaminya.

"AKU ingin pergi!" jelas sudah kalimat itu
tapi, aneh....kalimat sederhana itu begitu sulit untuk kau pahami

Apa kau ingat, suatu percakapan lirih yang pernah kita gelar malam itu,
yang terlihat AKU TAMPAK EGOIS, atau AKU PENDOSA yang hanya memikirkan diri sendiri.

YA...aku AKULAH PEREMPUAN EGOIS itu....
tanpa perlawanan, kubungkus serpihan luka yang kutelan sendiri
AKU KALAH atau AKU PASRAH
terserah, 


Jika saja kau bisa menyelami semua
ada sepenggal perasaan ikhlas yang ingin berkata
...
"LEPASKAN SEMUA.."
hanya itu
 ...

 

KATANYA AKU PEREMPUAN HUJAN


Ya,
pria yang datang dari rahasia kabut sore
dan mendung

mata murung
mata itu
ah...butuh kemampuan ekstra jenius untuk mengurai sel makna tatapannya

"Kau ingat hujan?"
Nggak
"Kulihat kau sering menari bersamanya?"
Nggak
"Tapi kau perempuan itu kan? perempuan hujan?"
aku mengangkat alisku

Pria bermata Siwa
yang tak pernah istirahat

"Memang kamu?"
Bukan
"Ya, kamu?"
Apaan sich

Aduh, hujan
Dan aku berlari memulai tarianku.

Minggu, 22 Maret 2015

Di dan Nay


"Byee...." teriaknya melambaikan tangan, sampai tubuhnya menghilang
...

Musim mengarak tubuhku, lebur menjadi sisa hujan yang tak bernama.
dari keluguan menjadi selembut awan.
Ya, Aku yang kau panggil Nay.


"Bacalah,..." Ria sahabatku meminta

Tentang sepi itu, Nay
sepi yang menidurkan mataku
sepi yang mengajarkan banyak hal. Entah kejauhan, entah tak berjarak
aku kerap menemukanmu; pada segala ingatan, luka pun canda

kabari aku
secepat apa bayangmu tiba
menyentuh pejam, meski dalam harap terjauhku


"Aku suka barisan kata-katanya," ucapnya kembali

Kedua mataku salju,
tiba-tiba khalayanku menjelma kunang kunang
seperti menari dalam gelap
menjadi taman, menjadi kembang

"Nay..." ria menyadarkanku
...

Burung bernyanyi, isyarat pagi memanggil
"Bangun sayang, bangun dari rumah mimpi hari ini.." suara itu kembali membangunkanku
suara bariton itu terdengar kembali.
"Aku ingin menemuimu.." bisikku pelan
kubaca kembali sisa senyummu 5 tahun yang lalu
Aku beranjak. Selembar kertas yang sedikit buram kuambil dari kotak sudut almari
Ini, puisi pagi yang pernah ditulisnya
...
Begitulah penaku dalam kertas
lembut terjatuh dari mata sepimu
Dari punggung bulan, malam menipis digaris letih. Memahat gurat lenganku

buka pelupukmu, kasih
ini pagimu
peluklah...
lirihmu membuka matahari

Ah...aku mendesis.
Aku tak bisa menyebutmu.

...

masihkah kita saling berkejaran di satu alam?
masihkah kita menjadi sepasang pemaksa yang mengunci malam menjadi altar sesembahan..
kupaksakan lagi kata-kataku
sudah beberapa tahun ini, kubiarkan jemariku jauh dari kertas
kubiarkan mataku tak menatap langit
kusembunyikan tubuhku dari hujan

percakapan itu, serupa bilah
tajam
kita menyepakati apa di katakan takdir
kita mengiyakan nama perpisahan
senja itu, dimana jiwa tak lagi bisa kuingkari
aku menangkap bayangan cinta menjadi abu
ya...

dan kini, sekali lagi
suara bariton itu memanggilku
seperti menyebut namaku

dan sekali lagi puisi itu menari lagi
seperti senandung yang siap menjadi tetabuhnya

...

"Nay, nay....."teriak Ria lihat ini
sebuah artikel ditunjukkannya

Tentang sepi itu, Nay
sepi yang menidurkan mataku
sepi yang mengajarkan banyak hal. Entah kejauhan, entah tak berjarak
aku kerap menemukanmu; pada segala ingatan, luka pun canda

kabari aku
secepat apa bayangmu tiba
menyentuh pejam, meski dalam harap terjauhku
"Kau ingat Nay, ..." kata Ria setengah berbisik ditelingaku
Aku mengangguk...
"Dan kau baca baris terakhir.." bisiknya lagi
...
...

Perempuanku "Di"


Tercekat, bibirku beku
Aku benar-benar menjadi perempuan bisu hari ini

Malam ini, diantara dua jendela dan bulan
diantara kertas dan pena, aku menulis puisi.

Jarak...
Apakah tuanku sudah kembali
dimana dia
seperti mantra
nafasnya kucium dari sudut semesta

Jarak...
akupernah menitipkan rindu pada angin laut
sudahkah kau kabarkan?
lalu, kemana?

Aku pernah dipertemukan
kemudian dipisahkan fajar, kau ingat
aku balita mungil yang manja
yang takut gelap, meratapi sepi
aku hanya bayi sungai yang tenang

Jarak...
apakah kau mempermainkan ku..
apakah kita tak bisa lebih sejati dari sekedar haus

Jawab!
ketika cukup lama aku menghitungmu, menikmati tiap detik adamu dan menyiapkan ketiadaanmu

Jarak...

...

Sengaja, aku menikmati senja sendirian
Barisan burung gereja berjajar rapi
"Baiklah aku ingin menikmati senja dan menunggu kepakan sayap terakhir untuk pulang." kataku sendiri
kemudian  aku diam,
dan langit tak merekam keberadaanku sekarang
kupejamkan kedua mataku, "Aku rinduu..."bisikku lirih

Bintang Jatuh

pernah dengar mitos bintang jatuh, Nay
bintang mahligai cahaya yang menaruh satu mimpi di bumi. Tentang tumbuhnya sebuah harapan yang dikawal hangat sunyi

aku pernah menaruh kata disana, lebih mistis dari syair, lebih sederhana dari doa, lebih cepat dari degup dada
aku merangkai bukan sekedar dari matamu
bukan sebab tangguhnya kesepian yang tak mampu kutaklukan, lalu mengikatku dibawah lorong bulan

aku hanya menatap sebuah hening, dengan sayap-sayapnya bercahaya. 
Menutup semua isi benakku

bisuku bicara
rapuhku bicara
bayang-bayangku pun bicara
hanya lidah yang diam, tak menyimpan kata

Pernah dengar mitos bintang jatuh, Nay
itu jantungku

saling berderit
ketika diletakkan pada musim yang sama
yaitu kata-kata



"Nay.." suara bariton itu terdengar lagi
tanpa membuka mata, kubiarkan percakapan imaji itu

"Di..." akhirnya aku menyebut namamu...



(buat Suma Aji, maaf petika puisimu kuambil lagi, untuk yang kesekian kalinya...terima kasih)

Rabu, 11 Maret 2015

Dear..

Dear hati...
aku kehilangan puisiku,
dari kemarin sepucuk surat hujan tak juga datang,
bahkan saat langit bersimbah gelap
masih kehilangan

"kemana puisiku..., dimana dia..." rontaku

dear hati...
kepada diam yang tak lekang
aku sebuah tulisan yang tak rapi
aku bukan surat
aku hanya sebuah pelukan yang kosong
aku mungkin hanya sedetak jantung namamu
atau aku hanya sebuah ciuman yang tertinggal bias di ujung biburmu

"kemana puisiku....,"
apakah kamu berjeda sekarang

huffftt...
adalah kamu, ada di diariku.

Ini yang paling kucintai

Berhubungan dengan coretan,
otak atik,
desain...
hal inilah yang bikin aku betah dengan dia
duduk menikmati radiasinya
sampai kacamata setebal bibir sumur ...
hehehe.....

Selasa, 10 Maret 2015

Siapa Di....?!!

Nama koma, yang lahir dari imajiku

Semestinya Bukan!

Ketika nanti aku mendapati setengah dari hatimu rapuh
Atas nama ketidak percayaan
Kita saling melambaikan kedua tangan
Melepas genggaman

"Semestinya bukan..." bisikku lirih

Ada yang mengapung dalam matamu
Seperti luka
Riaknya terlalu kecil untuk membuatku sadar, bahwa rindu mulai pudar

Dingin,
nafas kita enggan menyelamatkan sepi

"Semestinya bukan.." bisikku kembali

Lihat, diari mataku menuliskan luka
memaksa bibir untuk kau lumat dari tiap kata
kau fasih meluluhlantakkan pengakhiran
"Semestinya bukan..!!"

Sedang aku,
terlalu kalut dengan air mata
mencari jalan lengang, untuk memeluk takdir
mencari isi puisiku di ruas jemarimu
hingga lupa menghapal cara untuk tabah

"Di..!" panggilku lirih
Dijemarimu masih tertinggal tulisan yang tak pernah selesai
seperti aku membiarkan hatimu lumpuh, gontai sendirian.

"Temui aku di dermaga, tempat dimana layar mimpi kita tersimpan
lalu biarkan pilahan cahaya jingga menyala di retina matamu, untuk satu pertemuan kembali"
"Bukankah senja memang milik kita, Di?"

Saat

Saat kehadiranku semakin hari semakin kau abaikan,

aku tahu satu-satunya cara terbaik adalah mundur perlahan.

Bunga Jambu

senja,
bunga jambu,
serta tanah basah

ini hanya tentang waktu
dimana aku punya satu harap

langit sesaat mengatup perlahan
dan layar awan pergi entah kemana

puisi juga sejuta makna mungkin indah
namun mungkin tercipta dari air mata penyairnya

sudut bibirku ..
aku ingin menyembunyikan luka
jauh dari tanya
jauh dari ketiadaan
jauh dari kepahaman

...

senja
bunga jambu
tulisan ini kubuat begitu saja...

Ssst....Kekasihku...aku pengen Baby



Ssst....Kekasihku...aku pengen Baby

Hhhhh...aku mendesah

kepada hujan yang turun setengah setengah malam ini
angin yang gigil merangsek tulang
tanpa bulana
tanpa bintang

kau dengar ..
serangga malam seolah diam
nyanyian yang semula bising tak ada lagi

hhhh...
aku mendesah

aku mencoba membaca langitmu
meraba apa yang terjadi dengan malam ini

aku mendesah lagi...
hhhh...

yang kupahami, aku masih membacamu sendiri...

BAHASA CINTA

Bahasa Cinta.

senyum tertinggal disebuah dusun
berakhir pada lukisan tangan

yang mengisi malam
mengisi siang
mengisi kesendirian

terangkum dari cahaya yang tak berujung
dari love story
mengantarku, kembali menenun benang itu
dari sepasang sayap rindu yang tertatih

bintang jatuh
dari pengakuan bibir purnama
aku mengingkan dia
menjaga canda
mengupas rahasia dari segenggam hati

dari pintu janji
hadir kecupan dari guratan takdir
aku menjadi pemalu

Tuhan telah meminjamkan kita pada rasa sakit

Tuhan telah meminjamkan kita pada rasa sakit
yang melantahkan hati
kita sama sama luka
sama sama patah

kesempurnaan cinta,
apa yang bisa kita ambil dari sana
tak ada yang bisa berbincang denganku
selain hembus angin, pijar bintang, malam yang benar benar malam
sampai butir embun setelah pagi

kita sama sama beku
apa kau masih percaya?
badai mungkin telah memorak porandakan pijakan bumi
namun masih tersisa jejak-jejak hati untuk saling menguatkan
bertahan
berserah pada cinta

Mungkin..aku tak pernah memahami..

seperti hari ini, esok, kemarin
akhirnya kita tak sanggup menguatkan kerinduan
pada batas yang keterlaluan

kita hanya mampu
memahami
tak lebih...

menjumpai cinta
rasanya seperti warna hitam yang pekat
pahit

waktu seolah mengajak kita mengerti dari cinta yang belum kita sanggupi
atau biarkanlah waktu yang mengingatnya dari bahagia yang pernah tertunda

"jangan menangis..." katamu

seperti saat ini,
seolah pohon teduh,anak sungai yang mengalir bening dibawahnya
pada rakit kecil dan bunga bakung
kita pernah duduk disana, bertukar sastra
kemudian membiarkan hati menyegarakan luas, tuntas
sampai kayuhnya tak berhenti

"ya.."
mungkin aku tak pernah memahami alurnya

"tentang apa yang ingin aku katakan, pada hari ini...maafkan aku."

UNTUK YANG BELUM BISA KUBUKTIKAN


Mungkin apa yang kita hadirkan disini
tak lain hanya untuk membuktikan
"begitu sejatikah sebuah cinta?"

sebagai jarak, aku hanya mampu mengisyaratkan
engkau sebuah akhir dari tumpuan airmata
sebagai kuasa, kita sama-sama terjebak
dari riwayat yang saling menggengam

kau tau, sayang..
ketika kita menjadi satu perjanjian
itu adalah luapan karma yang sudah kutimbun jauh dalam hatiku
meskipun kita menghabiskan hari hari
menjadi diam, menjadi tenang

kau percaya,
sehelai doa kudatangakan dari seribu keraguan yang
pernah kau panjatkan....

CARAKU MENYAPAMU

selamat pagi...

hei
aku menyapamu
entah, pagi ini aku ingin romantis
membuka jendela, berdiri menatap bulan yang sebentar lagi pamit
pena, gelas kopi sisa semalam dan selembar kertas bergambar kita tergeletak begitu saja dimeja

semalam aku mengingatmu,
mengeja kembali jarak pertemuan
menulis bagian-bagian yang aku suka

tentu aku yakin disela waktu yang kau bawa
ada sekeranjang kenangan yang akan kau ingat

hei..
kita masih adam dan hawa kan?
itu yang kerap menjadi pertanyaanku
ketika matahari tergelincir menuju fajar
kemudian menyerahkan semua pertanyaan
pada kerinduan dari tempuhan semalam

seperti inilah, kita sama-sama meringkuk terseok menjalani rindu
sementara membiarkan semesta begitu pasrah pada musim
serupa angin dingin
kita tak pernah diam sesungguhnya
menanti geliatnya fajar
menanti tetes hujan mengendap menjadi butir embun

bias kaca jendela
tertulis sebuah nama
kemudian aku menghapusnya
ah..bukan, ini karena hujan begitu deras
kita terlalu bersajak,
terlalu berpuisi
kita terlalu sempurna untuk kisah pagi

rentangkan jarak dua jiwa
pada pupus suatu perpisahan
berkali-kali lepas
berkali-kali asa

sepi memilah diam
saling mencengkram
saling menggegam

tuan,
begitulah aku mengingatmu
pada puisi
tapi bukan ucap
karena yang kau pahami
aku bukan perempuan banyak bicara

dan kupaksa kau tersenyum,
ya...aku hanya perempuan dan kata-kata