Sabtu, 23 Mei 2015

Diam yang Terlupa


Diam yang Terlupa

menggenggam impian, kupikir akan membuatku menjadi seorang lelaki yang begitu tabah berada dalam sepi

terhempas gelombang debar luka
untuk kemudian menyudut mendiami sejuk airmata

: aku berharap kepedihan serupa pelukan

hangat

mengajarkanku tak limbung
terhanyut arus beku

Sebuah impian kupikir berupa pintu penuh cahaya
disisi-sisinya terukir bingkai senyummu dan warna mata yang aku sukai

Aku pikir, impian serupa sampan kecil di padang lautan bintang yang mengarungi malam untuk membaca sajak-sajak bulan
kita begitu bahagia menjadi sepasang bintang paling terang yang jatuh di taman paling sunyi

kita pun sepakat untuk membuat puisi untuk esok dan pagi yang sama-sama kita cintai

kupikir impian adalah huruf-hurufku
bait syair syahdu prosaku

juga rahasia degup jantungku

Aku pikir impian tak lebih dari sebuah kepergian
kepada airmata jatuh melambat
di sunyinya pemakaman sederhana

kepergianku

-SAS-

Jumat, 22 Mei 2015

Secret

 Lautan Hangat Kuku

Perempuan itu sedikit ragu menyerahkan selembar poto

”Ia sangat cantik”

”Iya, matanya merebut matamu, juga senyumnya, bibirnya”

”Kau menangis?”

”Tidak. Bisa kita bicara hal lain?”

-sas-


JANGAN LAGI

Jangan, please...
aku tak ingin pelangi
Hujan...sekali lagi
ceritakan lagi...

beritahu aku apa arti kehilangankarena aku benar-benar HABIS


beritahu aku
apa arti kehilangan
karena aku benar-benar
habis

So tired


aku letih
kedua tangan ini tak lagi sekuat kemarin
kemarin kau tumbuh berbenih dan subur disini
direlungku
kini..
kau menjadi kemarau yang merangas

bahasamu tak lagi kupahami
perih
sepi atau kah senyunyi mimpi
matamu bukan lagi puisi
seperti gelombang angin yang sengaja mengacau

ahhh...
mungkin ini hanya musim hilang
dan aku kehilangan aroma tubuhmu
aku kehilangan luka itu
aku habis pada mata yang berair
simbah ...

Di..
bagi kembali isyarat itu

Me n' break


aku
perempuan
patah hati
seeksotik tarian kesedihan
yang menggoda

Lonely

sepi
kekalkanlah
tubuh-tubuh dingin menjalar
serupa rindu membayu

kau tak pernah lagi singgah
bersandar pada jendala kayu gubukku

semusim ini
kita menjadi sepi yang durja

You

sebatas angin
langit tabah
rumah sepi
kujatuhkan satu persatu bening
dari embun pertama ketika membuka mata

duniamu
adalah ribuan hal yang akhirnya 
tak mampu kumenangkan..

Minggu, 17 Mei 2015

KITA TAK PERNAH KESITU

aku pulang sayang,
aku membawa garis gerimis yang kau tinggalkan
mungkin kau telah melupakan
dan kita pernah mengukirnya diatas warna pelangi

sayang,
kereta terakhirmu tak pernah kujumpai
barisan gerbong menjadi besi tua yang berkarat sekarang
dan kau lihat jejak berdiriku disana tertimbun daun-daun kering

sayang,
kita menjadi dua terasing yang kehilangan angan
kemana rindumu,
dimana sedihku
ah...
semua menjadi berbata
seperti isak yang sudah habis terkikis hujan berkepanjangan

sayang, kita pulang
dipersinggahan masing-masing
jangan pandang stasiun itu
karena kita tak pernah kesitu.

MOVE ON


aku pernah berjanji
menyelipkan kata yang kuinginkan
ketika menatap bintang jatuh di langit malam
ketika kita mau move on sekarang
gimana?

pada hal kehilangan
mungkin aku lah yang lebih tragis
tapi aku percaya
selain aku
mereka punya kisah yang tak jauh lebih miris dari yang aku punya

hehahahhaa

day be day..
kita buat jatuh cinta adalah yang paling magis sekarang
sementara biarkan para lelaki berlalu dan berkata ..bye...

xixixix

Dear, bagaimana kabarmu?

Waktu tak lagi memiliki digdaya
kebisuan, hampa adalah pemilik jiwa kita
aku mencarimu dalam keheningan
aku berlari tumpah dari segala sepi yang menyetubuhiku

dear..
yang tertinggal mungkin hanya sepenggal diam
dari lirik yang tak bisa bersuara
sajak sajak terurai lepas tak berpunya
ucapanku hilang
seperti deru degup tak berkabar
"dear, bagaimana kabarmu?"
hilangkah senyum sabit malam rindumu?

kau masih membisu.

"Semoga kau baik baik saja"

bicarakan tentang sayap kita yang indah di punggung imaji
dari mulai tumbuh, menguat, kemudian menerbangkan daya kita
itu pelukan, itu kehangatan, itu adalah cinta
seperti kedua tatapanmu yang mampu merundukkan matahari

sering kita berbagi amarah
berbagi hal yang paling dibenci
berbagi cemburu
berbagi dusta
sampai kita berbagi pujian

masih,
aku berbicara tentang sayap itu
tentang harapan yang sebentar akan sia sia
tentang ketidakmampuanku memegang janji
tentang akhir kosong ruh dalam tulisanku ini

sekali lagi,
aku masih memperhatikanmu diam diam
bukan sebagai rindu yang cemburu
melainkan kerinduan gadis kecil bermain ditengah ladang ilalang.
kemarin hanya sepasang manusia yang ingin bertemu
dan sekarang kita dua bingkai yang saling berpesan

"semoga kau baik baik saja"
sepergiku dan sepeninggalmu