Jumat, 28 Desember 2012

Kejutanmu manis magis


Tersengal..
Rinai nafas berjuntai dalam debaranku

Ya..ini jawabanku :
Antara takut dan kalut

Aku takut, aku takut kau tak lagi sama
menjadi berubah 

Kau tak lagi menjadi detak kejutku
Yang setiap saat membuat hangat 

Senja itu, kau ingat saat rinai kecil datang menyapa belahan semesta.
Kau angkat bahuku yang mengaku 
Debar ritme jantung tak seirama dengan dengus nafasku
Dalam gerak slowmotion, kau mengecupnya
Hangatnya menyebar, membalut rasa nyaman
Itu kejutan mu yang dinamis magis untukku

Kembali desir jantung mencairkan kebisuan, meluluhan perasaan
Kekakuan yang mengekang jiwaku
Hilang sementara waktu
Satu kecupan kembali mengakhiri mimpi
Itu ritme kejutanmu sekali lagi

Tentang ....


satu hari dibulan ini
tentang .... satu hari dibulan februari

memperhatikan
mencoba mencari sesuatu tentang ....
menerka rasa tentang ....
mencari, memilah kata yang pas untuk ....
mengarsir melalui pensil dan melukis wajah ....
memperhatikan, bukan sehari bulan ini
cuma ini yang membuat bulan menyabit menghias dirona bersemu

*tentang .... (titik empat)

AHH


cinta dengan makna berbalik,
alasan klasik
rasa yang tersesat dalam labirin labil
sesaat menakjubkan 
karena kisah cinta bicara atas nama cinta

rayu-rayu terdengar seperti paduan musik

DAGGG...Desember


dan bilang pada kegetiran malam,
desember ini "aku benci kamu"

bilang saja pada hujan dalam lambaian tangan
desember ini "aku benci kamu"

bilang bahwa atas nama yang melibatkan 
hasrat berserak desember ini "aku benci kamu"

bilang saat bosan,
lelah bergumul dengan kecewa desember ini bilang "aku benci kamu"

selalu, bilang saja selalu membencimu

meski jatuh dingin menyadap aroma hujan
desember ini, meski tak ada yang memahami
meski tak pernah berjejak kembali

SEKUNTUM PUISI UNTUK ILALANG


hujan yang gemericik di sekuntum rindu

basah di bola matamu
dalam bening yang mengkristal kita sama berkaca;
"serupakah wajah kita?"

menanam benih-benih cinta di padang kerontang
seperti ilalang yang bermimpi jadi seroja
adakah aku?
matahari yang membias di musim hujan

biarkan ilalang tetaplah ilalang
menari di tengah savana
dengan sekuntum pelangi yang mekar

hingga senja, meminang malam
dengan senyummu yang kejora

oleh Karang Indah pada 29 Desember 2012 pukul 7:56 ·

*sebenernya ini puisi bukan untuk aku hehehe....tapi ini sumpah keren banget, sudah ada 4 puisi sahabat yang aku copas disini, tapi ada ijin nya loh...dan terima kasih sebelumnya.


Kamis, 27 Desember 2012

MAHADIBA



tentang...MAHADIBA

Kau tau apa arti kesepian


adalah tentang bagaimana menanti rasa yang kembali yang tak pernah mengerti.
adalah memandang diri dari gumpalan asap yang mengepul dalam secangkir kopi yang dingin, lupa dan tak tersentuh
adalah saat bagaimana nyata-nyata tumpukan catatan yang menghasilkan ruang candu dan cemburu
adalah berimaji tentang mimpi dan harapan sosok semu
adalah bahwa setiap jejak yang tertinggal menuju alam sendu
adalah terkuncinya hati pada ketakutan tentang cinta yang jatuh dan jatuh cinta
adalah lupa bahwa sakit yang tak kunjung sembuh berawal dari organ bernama kalbu
adalah seribu bisu yang dibiarkan bisu,
adalah menjalani hari per hari, mencatat halaman perhalaman, sebelum aku mengenalmu

kau tau arti kesepian

BERJANJILAH PADAKU


Berjanjilah untuk berusaha bahagia. 
Jangan bohong lewat tawa itu. 
Karena tertawa bukan tentang bahagia. 

Aku ingin kamu bahagia. Bukan tertawa, 
Tersenyum apalagi menangis. 
Dalam diam pun aku akan tau tentang bahagiamu. 

Tak usah menulis. Tak harus jadi puitis. 
Jika kelak kamu bahagia 
Aku pasti yang pertama memberimu hadiah manis. 

Menjadi bahagia bukanlah sesuatu hal yang tabu. 
Berjanjilah padaku untuk berusaha menjadi bahagia. 
Aku tau kamu bisa menciptakannya sendiri. 
Dan aku akan selalu memperhatikanmu dari sini.

: Selalu

Senin, 24 Desember 2012

MENUALAH DENGANKU



jika kau punya do'a 
dengarkanlah...

aku ingin seribu puisi
mengabulkan pinta atas do'aku ini

"aku ingin mencintaimu dengan ihlas"

karena sampai detik ini pun, 
aku belum bisa mencintaimu seikhlas itu.
meski jutaan kata aku bilang
aku mencintaimu.

beritau aku caranya..
dan tunjukkan aku caranya..
untuk ihklas menua denganmu

MILIKMU..IMAJIKU



dan tarian sastra milikku bercerita tentangmu,
karena dia jujur mengalirkan kata-kata
dia begitu lugu berbicara melalui aksara
dan mengawalinya dengan menyebutmu.

fikiran maya dan ilustrasi berkonfrontasi
dengan imajinasiku...
melalui sentuhan pena, dan bisikan senandung 
yang lambat-lambat menggambarmu jelas..

dan,
seketika aku mati, saat menikmati sunyi mengeja namamu
kau menikam pelukan dari arah yang berbeda.
dan aku terdiam dengan memperjelas pelukan.

aksaraku, menari-nari
mengalun dalam pelukan diam.
: langit mendung menguntit jejak tulisanku dari belakang.

Minggu, 23 Desember 2012

PERCAKAPAN KITA DI DAPUR



mencoba menghitung nafas yang terhembuskan angin.
mengumpulkan serpihan salam dari cerita bisumu semalam.
degap degup jantung seirama dengan organ tubuh yang menghasilkan nada romantis
ini keluar dari gerak gerik detik dadamu.

semalam, kuhabiskan waktuku untuk mengulum dan menikmati kisahnya.
aku bermalam diantara ruang imajiku, dan bangun menikmati sadarku 
aku berjibaku, antara terang dan gelap menyergapku.
seandainya semalam kamu di sisiku...

***

Aku lebih tegar dari sunyimu
lebih tegar dari detakdetak sepi yang ku kutip di spasi letih matamu

semalam..
aku menulis potonganpotongan puisi di benakku yang rapuh
menyusun acak rindu
dari segala lipatan maknamakna kosong di jemariku

aku tahu
ada lebih dari sebuah keyakinan dari ketegaran malam yang menjaga kesepian
tentangmu 
yang diam membisu di puisiku

***

 aku membacamu,
lewat puisi yang kau sematkan dalam diammu

semalam langitpun ikut diam
dia menemaniku membolak balikkan aksara
alur dingin mengabur
semalam gemintang terculik oleh sang rembulan, kau tau?

aku membacamu, isyaratmu
seperti aku berbahagia atasmu menyuntingku dalam puisimu
seperti yang disembunyikan rindu

***

Aku ingin kamu ada
lebih dari seribu sajak purnama
mencium aroma putih di lekat gulita
membalur indah sepijak lusuh langkahku

dalam asa yang membinar
ingin ku petik cahayamu
mengupas redup palung syahdu
di rerimbun makna jarakku 

katakan..
kali ini saja
"bahwa cinta kita ada"

***

jika cinta sesederhana puisimu
aku mampu menyederhanakan makna dengan ikhlasku
memilih untuk bersanding

atau mungkin ..

jika purnama mencabik setiap yang tergores
dan kata-kata kagum terlontar menjadi ikatan hati

aku memilih puisimu.
jika lantas kau bertanya adakah cinta kita
lebih jujur berkata, "ada"






AKU PEREMPUAN DIAM

aku perempuan yang memikirkanmu, sedangkan kamu tak tau sedang apa aku.
aku perempuan yang biasa berdiam, tentangmu diam. 
diam-diam aku memikatmu, menjerat seperti kekang yang mengikat, tapi kau juga tak tau,
bahkan aku seperti aliran bening yang sampai kemuara jiwamu, kamu masih tak tau
bahkan kau tak mengenalku, tak memahami siapa aku.

aku perempuan yang sedari dulu memikirkanmu, kau masih tak tau, atau enggan tak mau tau.
aku bisa cemburu, bahkan amarahku membumbung kala melihat perempuan yang menggandeng tanganmu, 
itulah aku, perempuan yang diam-diam memikirkanmu, karena dengan itu aku seperti memilikimu. 
diam, melihatmu, melirikmu dan menikam dengan rasa cemburu. 

aku perempuan yang memikirkanmu, tanpa mau tau, kau mengenalku, atau melihatku. 
kau tak perlu tau siapa aku ...

aku perempuan yang memikirkanmu..diam

IRAMA ANGIN


angin mencumbuku melalui pori-pori telanjangku
yah...wajahku bertelanjang,
tanpa kacamata, tanpa make up tebal yang membuatku berat

angin mulai menusuk jantungku,
kurentangkan tangan, seolah aku menangkapnya sigap
dia merayu, mendayu-dayu
yang terjadi ?
dia menghasilkan irama indah yang hanya aku yang tau

angin..
temani sekali lagi, biarkan hujan, awan dan mendung bersahabat
karena aku ingin disaksikan mereka..kini aku bisa menikmati sabda percumbuan
di semesta raya.

menikmati indahnya hidup dengan rentangan tangan terbuka.

MERANCAU CINTA



jemari ku berhenti..

aku tak ingin menuliskan semua tentang cinta.
tapi, apa mau dikata, aku berkarib dengannya, 
aku dekat dengan hati yang sedang jatuh cinta 
pada siapa? ...pada cinta.

sampai saat ini aku tak memahami cinta, 
bagaimana alur cinta menyapa..ia mengalir begitu saja.
hmmm...
mungkin memang begitulah cinta bicara, tidak untuk dimengerti
cukuplah dirasai dan dinikmati

cintaku luas, pada orang tua, kerabat, teman, sahabat, anak, ayah, ibu, sesama mahluk, atau sesiapa yang punya sebentuh hati.
luas..begitu luas. dan aku tak begitu pintar untuk menjabarkan, aku tak smart untuk mengungkapkan, 
aku tak merpijak pada anatomi arti cinta. 
hhhh...
sekali lagi aku merancau tentang cinta, absolut rasa yang tak dipahami.

namun sekali lagi, aku cukup menghargai cinta itu sendiri untuk mencoba menyentuh sekali lagi

DISKRIPSIKU TENTANG DIA


ada yang bertanya,
tentang siapa dia?
yang membuatku tak bisa menghentikan tarian penaku ini.
tentang mimpi, tentang harapan, tentang cinta.

dia, yang menjadi panji inspirasi kalimat 
menjadi keinginan untuk tetap bersayap. terbang...menukik dan merendah
pada langit biru.
dia, sering mengajakku di pundak cakrawala,
dimana tempat aku bercengkerama, mendaki awan kapas untuk berlompatan kesana.
dia, tak sungkan menggandeng jemariku untuk mengatakan kau adalah butiran hujan
yang Tuhan kenalkan padaku.
dia, tersembunyi diantara sisi romantis yang dikatakan rembulan dan bintang.

mereka, menyudutkanku diruang sempit untuk mengatakan siapa dia?
yang telah membuatku luluh, luruh mencair di setiap kebekuanku. 
yang mempunyai tatapan sendu terbungkus kaca.
yang telah menjadikan aksaraku tercecer di sepanjang mentari, disepanjang 
sisa perjalanan dari hitam kemudian menjadi abu-abu.

mereka masih menyeretku, memaksaku mengatakan...

kau tau "dia" ku...meski seribu pertanyaan memaksa bibirku
aku masih terdiam. saat ini kau kekuatan di balik sayap lemahku.
saat ini kau punyaku, dan dia adalah kamu.


Minggu, 16 Desember 2012

Saat kehilangan aksara


engkau mencair bahkan telah mengalir ke lautan...
meski ombakmu ku karamkan, 
namun karang menjadi tempat buihmu sisa tersapu gelombang

: lautan membiru, ombak bergulung

puisiku lelah disayap camar
dan entah mungkin terbawa terbang

Pragmatis Cinta Dua Sisi



: aku masih merindumu di jarak yang sama
Oleh admin SAS
-------------------------------------------------------

Kuntum-kuntum hati telah kita rangkai 
pada jarak mata yang sudah kita suarakan

beribu kejauhan membeku, mencair 
menyeretku ke dalam kehangatan 
di jerit gaduh kelakarmu

lalu kita sama-sama membuka pintu, bertukar sapa dalam pertemuan imaji yang tinggi

Desir angin masih begitu berat mengusung sekemas rindu
di lingkar malam sepukul 20:30

puisiku kembali dewasa
menghiasi beranda-beranda belia
di detak yang mengejarmu

*karena aku mengambilnya tanpa sepengetahuan dia, tapi aku percaya dia suka

Jumat, 14 Desember 2012

PERGI DAN KEMBALI




suatu hari
rahasia kecil itu
tergambar jelas 
disepanjang
jejak kalbu

prasasti hati
yang telah kutuliskan
tak lelah menanti
takdir yang digariskan

layaknya kupu-kupu
terbang membawa setitik madu
mengucap sepi
dan pamit pergi pada setangkai bunga

sunyi bernyanyi
dalam musim sepi

ASMARA DENGAN DOA



saat ini aku menjalin asmara dengan doa
seutas asa merajut sebuah cerita
dari celah rambut sampai detak dada
bergemuruh...mengembunkan kidung kita

karena kita masih seutas asa,
yang terikat, tersimpul pita 
dibawah lentera
redup, nyala...

tentang mu, tentang satu satunya

jauh rindu tak kupinta
sedang jiwa segalanya
kini,
nanti
atau esok
pasti kembali

sebab, aku selalu mengucapnya
disela do'a untukNya

KISAH MEREKA BICARA




alkisah dua manusia biasa
terkurung dalam sangkar cinta
meruap hujan
membawa angin
menjadi embun

nyawa terbang tak tergenggam
ruh melayang tak terlupa

alkisah dua manusia biasa
tersematkan melati di jentik jari
diantara barisan puisi

hanya kalimat berbicara,
terlipat dalam simpul rahasia
tak tersentuh..
meski hujan melunturkan peluh

mereka tetap utuh.

YANG TAK TERSAMPAIKAN




Tuhan

pertemukan kembali
jemari yang bertaut
hati yang mencinta
dalam doa
selembar doa saja
hanya harap tersimpan
menjadi selimut kekal

Tuhan
beginilah cara ini memuja
hanya mampu tersampaikan
pada gerimis

hanya dengan lagu 
yang tak bersenandung
mendengarkan nyanyian mendung
meski hujan tak terhubung

Tuhan
jika bahagia mencintai telah usai
biarkan malam cepat menepi
karena sungguh, 
di sana aku bisa melihatnya
meski dalam mimpi

Tuhan
jika berkuasa
lihat caraku memuja
dalam secarik rahasia.

KAU GADIS ITU


Gemulaimu menari
di liuk canting kayu
merajam abstrak garis tipis di jemari

ah, bibirmu sewarna merah gambir
menikam getar salur layar mataku

katup jangtungku menghunus jarak senyum yang kita rapatkan

nafasmu melilin
rebahkan mimpi
mengulum kanvas-kanvas bisu

kaukah gadis pemilik alunan angin
pada drama sendratari Rama Shinta
di purnama
di lantai manja ke-elokan 
seranum di salur gurat senyummu

Kau gadis bercanting kayu
menyulam senja
membiru di kencana lelangit

di pertemuan rindumu
kau begitu sunyi


(kuambil dari dinding Suma Aji Swasana)

Kamis, 13 Desember 2012

FEEL..



Belum terlalu silam saat kutanggalkan dia dalam sebuah cerita.
Yang persada, panjiku ku junjung tinggi manikam kalbu,
Langitku kini sebiru samudra, awanku seputih surga.
Dari balik bukit, dari bilik cahaya senja, dan dalam perdunya  dedaunan
Kau sematkan setangkai krisan penyambutan...

Sehening pagi, aku meneteskan embun di telapak tanganku,
mengalir dan jatuh kembali ketanah, ohhh...

Ini awal yang indah, untuk merangkai sebuah cerita yang sempat tertunda
Yang pernah terhenti dan hilang begitu saja.
Jjangan malam membuat kita lelap, karena igau kita membuat kita bimbang,
Karena aku takut...takut malam mengambilmu dari teriakan kita, dari tetesan hati kebersamaan kita.
Biarkan bulan saja yang menjadi saksi pertautan hati antara rindangnya cinta dan kokohnya dahan kerinduan.

Selamat datang perasaan. menjelmalah menjadi yang indah dan terindah nantinya

TENTANG KITA




meraih purnama saat malam memapah
seiring dercik gerimis mendulang rinai kerinduan
demi cinta dan pertaruhan rasa
demi asa yang tergenggam janji

kusulam puisi menjadi selimut diri
terpatri dari pintalan benang-benang hampa
tak lama aku membuatnya
hanya aksara bertahtakan sebuah nama

bukan untuk nya
atau untuk mereka
namun untukmu semata

derap-derap langkah tertawan di angkasa
melanglang sebuah maya dan kekosongan
senandung nada tak terbendung
senandung mimpi terbuncah sekejap saja

puisiku yang berkutat dengan malam
yang hanya kubiaskan dengan kalimat sederhana
yang kubesarkan dengan kata-kata

puisiku tak berpermata
tak berjubah 
dia berpayung kasih
tak berbunyi
namun ia bercerita
tentang kita

kala Tuhan menitipkan rasa, hanya kita yang mampu bercerita

Senin, 10 Desember 2012

Sumpah!


sumpah!

bahkan takdirpun
akhirnya pasrah saat pagi melahirkan cahaya surya
dari lahir alam, bahwa cintalah yang membasuh rasa
perasaan dan keraguan

dan akhirnya...

aku merangkumnya menjadi sebait kalimat sederhana,
yang mengantarmu pada letih dan kisah yang tertatih

ahh...
tetaplah menjadi malam dan penyatuan cinta
bahwa tanpanya tak ada bahagia,
seperti kata senja tak bisa menyala tanpa ada surya yang menenggelamkannya.

DENGAN CINTA



: dengan cinta
tanpa yang dicintai adalah
sebuah keheningan tanpa lentera
dan keheningan itu yang
mengikat tanpa syarat
sampai pasrah menyerah
kala busur cinta di lepaskan sang hidup

dan ketika bidadari surga 
melantukan lautan bait cinta dengan ketulusannya
seberangilah..

seperti langit menyembunyikan gelapnya
pada rintihan hujan dan raung halilintar menyambar
temukan..temukanlah dengan sayap tipis yang dikaruniakan
terbang..ciptakan makna cinta itu sendiri..
jadikan kerinduanmu sebagai lentera kepasrahanmu untuk 
menyingkap rahasia cinta yang tertera.

: rentangkan nyayian,
  atas segala hitam dan  putihnya cinta

"Aku membutuhkanmu..."




tak tahu berapa besar kau mencintai, 
tak tahu juga sedalam apa kau menyayangi
tak mau tau berartinya apa aku bagimu
namun..
kaulah nama yang aku tunggu

ilalang telah bersaksi pada angin, dia berikan percaya bahwa hanya angin yang mampu membuainya.
begitupun hujan, salamnya untuk mengetuk setiap bagian bumi telah diberikan,
jatuh...dalam untaian gerimis dan tangis.
Do'a dan takdir adalah segaris dalam aliran darah, dalam detak jantung yang terus 
berdenting. 

ikrar yang pernah kuucapkan pada sang langit, bahwa ia akan setia memeluk awan, dia lagukan setiap hujan
menjadi senandung harapan. saat itulah puncak kerinduan tak mempu kutepiskan.
dikeheningan mencoba menikmati sendu dasar hati, dalam samaran lagkah yang terus menghilang.

dalam sepi warnai raut rona kita, aku dan segala tumpah ego juga angkuh, terbata 
berbisik sendu...
"aku membutuhkanmu..."

FOREVER...



baca goresan tangan ku yang tak letih mencari
isyarat nama, dibalik rimbun ilalang dan dedaunan
yang ditebarkan sang angin...

hembusan nafas, berbata,
mengerti adanya keajaiban
berjalan bersama takdir yang telah di gariskan
merelakan sang fajar belumlah terbangun dari sebuah mimpi

selamanya..
sampai nanti letih untuk bersandar
dan membiarkan senyum mendamaikan pribadi.

Jumat, 07 Desember 2012

KITA BERTEMU DI SEBUAH PUISI


Dulu,
hanya sepenggal puisi yang
terjatuh,
bangun, dan kemudian terbang
sendiri

Dulu,
saat menyusun setiap kata,
aku harus memungut setiap serpihan takdir yang tercecer
menjadi kumpulan kepingan terakhir

hingga...
kita bertemu
(puisiku dan kamu)

kedatanganmu dikabarkan sang hujan, 
bukan lagi isyarat yang diberikan gerimis dan angin. 
namun kita dipersatukan oleh sebuah musim.
langit tahu itu dan awanpun paham..

maka,

biarkan kita melahirkan beberapa puisi
yang tak terhitung, 
yang membuat mereka muram menjadi tersenyum, 
yang meleburkan airmata menjadi tawa suka.

sampai mereka tak merasakan bahwa ada sebelah jiwa yang merasa kehilangan..
meski sebenarnya itu adalah hakiki.

TERNYATA HANYA...


aku meminta diri, untuk menepi, membiarkan setiap malam kubisikkan pada janin embun, jika esok kau lahir bersama terbitnya fajar, ketuklah jendela kamarnya, dengan dedaunan yang menyibak ruangnya.

hampir malam saat hujan rebah, bintang tak berani untuk menyampaikan pesan, dia hanya menyimpan di sudut bintang merah nun jauh disana.

setiap malam, selalu saja sekuntum embun kusunting dibalik tirai, bisikan kecil sering hanyut bersama hembusan angin malam itu

"sebenarnya, biarkan aku berada dekat denganmu. menjadi teman yang paling setia.jika bisa hadir saat terakhirnya nyawa.."

tak kurisau saat kau arungi puluhan ribu perasaan, tenggelam berdua diperaduan, tak kutahan ketika layar perak terkembang dan menggelitik kadang menumbangkan.
rebah, biarkan saja sejenak rebah..

menatap gemintang, seperti semburan pesta kembang api para bidadari. kitalah yang menjadi saksi. setelah semua terlunas, dengan warna pipi merona kembali bersemi, saat itu biarkan saja jemari yang menceritakan kembali.

bagaimana dulu aku mengukir warna pelangi di lengkung langit.

ahh...

ternyata hanya sebuah pesiar yang tak sampai kedermaga. sebab waktu telah membawaku menyeberang,
setangkai fajar telah menenggelamkan, menjagaku hanya dengan menyisakan ssedikit ingatan tentang...mu

Ahh..hujan kekakasihku.



berikan saja satu alasan ketika cermin itu mengatakan nyata, ternyata kau hanya seorang biasa.

sampai suatu ketika kau mengajakku untuk keluar dari duniaku, mengajakku memaksa menghapus airmata. dan mulai menyapa mentari dengan ihklas.

ahh..hujan kekakasihku.

kenapa kau tak menghukum dengan membiarkan airmata itu menjadi ingatan yang sukar untuk kulukiskan. 
mengapa kau hanya membiarkan sejukmu menyeringai seolah memberikan kalimatmu, 

"persembahkanlah saja dirimu, itu kebahagiaanmu."

harapan, dia mengendap untuk menyapa. mungkin dia tak akan pulang, mungkin juga butuh seribu tahun kembali untuk bertahan.

sungguh tak sanggup mengejar. biarkan saja semua tentangmu menjadi saksi dalam kilas cermin yang berdiri disini. bahwa ada jiwa terjaga yang siap menerima malam ini, meski hujan menghukumku untuk bungkam dalam dusta, dan kemudian akan menjelma menjadi kidung kematian.

bayangan yang tak pernah kuajak dalam pengembaraan, semoga kali ini membawa ketempat dimana damai dan cinta tak akan meninggalkannya lagi

*karena itu ada setangkai melati tertancap pasti disini yang tak terbiarkan ilalang, menyentuhnya.untuk sekedar mengatakan "selamat sayang"

Saat Umurku Berkurang Satu Hari



Tuhan...

Telah kau saksikan tetesan air menjadi gumpalan darah,
ada detak bernyawa

Kau menyaksikan tangan mungil menjadi jemari menggenggam kehidupan
percakapan riang menjadi untai do'a pendewasaan

Kau tau bagaimana aku tumbuh,
bertahan,
memutuskan dan bersabar
Engkau menerima lebih dan kurangku

Hari ini aku pinta sejenak pada langit

Bahwa isyaratMU kupertanggungjawabkan
Untuk bahagiaku dan semua keluargaku
Juga mereka yang mempunyai cinta kasih

Tuhan..
Izinkanlah atas apa yang kupanjatkan
Dan menyelesaikan semua takdir kehendak-MU yang menjadikan catatan sebagai ujian terpanjang.

Saat umurku berkurang satu hari.

Selasa, 04 Desember 2012

RINDU SEBAGAI PRASASTI


kau adalah jelmaan dari kata-kata 
yang menjadikan sebuah bait puisi

yang di ciptakan dari hangatnya mentari
dan dinginnya hujan

kau adalah ciptaan dari kehangatan dan kasih sayang
di sebuah perjalanan yang kusebut kisah

dimana engkau masih berkubang pada isyarat
yang mengembalikan kekuatan dari tangis kegelisahan

jangan tanyakan kembali, apa aku bagimu?

kau adalah nada terakhir yang mampu di dengungkan padang savana
sebelum akhirnya mengering di akhir senja.
pun aku, biarkan keelokan cakrawala yang menemani kita
di akhir keyakinan kita...
bahwa rindu kita adalah segalanya.

: ditepi sunyi awan berbuih sepi
saat kutulis rindu sebagai prasasti

MASIH MEMINTAMU



buatkan aku sekali lagi puisi, untuk singgah yang pernah kubagi.
untuk mengenang tanpa menyalahkan keadaan.
aku ingin menjadi bintang, yang selalu berkedip pada malam.
aku ingin setegar rembulan, yang masih tersisa kala fajar mulai menyambar.

buatkan aku sekali lagi puisi, yang pernah kau janjikan padaku.
sebelum pergi memungut pintamu diam-diam

JIKA NANTI



Jika nanti surut rasaku menunggu jawabanmu
Berikan jawabnya pada rinai hujan pertama yang jatuh di atas langit

Dan jika nanti rasa nestapa menyelimuti hati
Yakinlah...bukan untuk resahku menunggu
Karena betapa lucunya persembahan rasaku...


Bukan percuma rasa, Rindu yang berkata,
Bukan bibir yang bicara, Sebenarnya kata dari jiwa.

KETIKA MAKNA KU HARGAI



Satu satu perih itu tak menyisakan pedih

Biarkan ia mengalir sembari menggandeng erat butir air mata
Membawanya berlalu meninggalkan luka
Memaksa rona berkata suka


Kau tak menorehkan jelaga hitam di bilik sukma
Kau juga bukan pencipta dosa pada limpahan nyata
Kau adalah persembahan seluruh rasa
Kau adalah bias pelangi di kidung hati


Tak sempat ku eja satu persatu kata di sisi aksara
Tak bisa ku elak makna kecewa dari tarian kata
Kala ada tutur bungkam darimu,
Hanya ulas telan dahaga yang menjadi jawaban


Dirimu rajutan sutera simpulan hati
Dalam damba yang tak biasa di sela sanubari
Buatku kau selipan kuncup melati
Tumbuhkan aroma seberbak mengusik nurani


Ujarku padamu...
Makna hadirmu masih kuhargai











AKULAH KALIMATMU


hujanlah yang menyaksikannya, dan gerimislah yang rela menyusun rinai menjadi rindu,
menaburkan diantara jeda aksaraku.

aku padamu, sebagaimana telah kuhargai senja saat mengibarkan lembayung, dia tak mampu membakar rindu untuk dijadikan abu,
sebab ada aku yang menjadi kalimatmu.

ingatkah engkau, tentang romansa yang kuceritakan semalam? bukan sekedar rangkaian kisah dia tak bernyawa. 
namun dia tumbuh menjadi penghubung antara maya dan nyata.
Dalam ruang kata, imaji ku bingkai indah di sematan salam. selamanya meski dalam bisunya do'a.

SENJA INI BERTULISKAN CINTA



senja ini bertuliskan cinta..


ketika sekumpulan camar mengkabarkan
: bahwa aku mencintainya

ketika sekuntum melati menebar dipangkuan
: bahwa dia masih keharumannya

ketika angin dan hujan membaringkan dilautan
: bahwa dia lah kesejukannya 

ketika teriring do'a untuknya
: bahwa dialah kebahagiaaku

betapa tak ingin tanpanya 
sebab dengannya harapan ini sanggup kubaca

TENTANG SATU-SATUNYA


menyebut satu nama 
dipelukan senja

pijar senyum mengantar do'a
hijab dari langkah tersemai rasa

dia yang pernah kubaringkan di jelar asa
dalam kubangan hasrat
dia masih disana...

dia yang meminta menyunting embun
untuk kuselipkan diantara jemari dan hati
meski angin meneteskan beberapa butirnya
namun aku masih menemukan damainya

dia yang meminta suka dan tawa
untuk menemaninya menatap purnama
meski malam memburamkan
dan bintang sembunyi dibalik awan

dia yang meminta sebutir airmata
untuk merajut cerita saat gerimis menyapa
meski hujan menenggelamkan
namun tetap senyawa dan terindukan

kini dan nanti
dia masih seutas asa
tentang dia, satu-satunya

Senin, 03 Desember 2012

ISYARAT ITU PUISIMU



isyarat itu
: nyaris sempurna

puisi itu melebur menjadi doa
saat terbukanya mata

dan

kembali bercahaya saat 
setelah lelah bermimpi

isyarat itu
: nyaris sempurna

saat begitu perkasanya puisimu
membawaku menghargai cinta pada titik keagungannya
membawaku memelukmu pada keabadian hati

isyarat itu
puisiku pada hujan
yang begitu bermakna pada setiap tetesannya
mengalirkan kisah dewasa aku dan kamu

Jumat, 30 November 2012

PUISI ITU KITA TULIS BERSAMA


kau tau, setiap aku membaca puisi yang kita tulis bersama
ada rindu menjumput di retinaku, seperti berebut mencari posisi
dimana letak persinggahan hati...

diselembar kertas kita menggambarkan seperti
sepasang kupu-kupu terbang melintas, tanpa warna.
hanya kita yang bisa mengamati, bahwa sepasang sayap itu terbang dengan warna putih yang sempurna.
biarlah hanya kita yang mampu melihat, meliuk kala senja
dan berhenti mengepak kala kita benar-benar terjaga.

merapikan kembali kertas yang kita tulis bersama,
menata ulang lembaran-lembaran cerita seakan masih ada yang kurang.
hmmm...
kembali membaca puisi yang kita tulis bersama, menari perlahan luka yang terbawa,
dari tiap huruf dan kata.

tertunduk, mencari dimana sisa kata yang kau sembunyikan tentang 
bagaimana cara memahami sebuah cinta...

MEMBACA KEMBALI ALUR YANG HILANG




membaca kembali alur yang hilang,
yang merubah tawa menjadi derai air mata
menanti dan terus menanti

nama itu kuselipkan dalam kabut
yang pernah singgah di antara lelah dan resah

nama itu kutitipkan pada garis senyum sang embun
di singgasana yang bertahta bernama rerumputan

nama itu tergores di lembaran suci yang kutangisi
dalam pelukannya yang mengusik jiwa

nama itu kadang menjadi bintang
yang dengannya memberi kedamaian

bisikkan maafku mengatas namaimu,
disegala arti yang kau singgahi
aku sendiri..

membaca kembali alur yang hilang,
mencoba melukis senyum di kanvas matahari 
dan menarik kembali embun yang berbisik

: kau begitu berarti meski jemarimu berhenti menulis puisi

AKU SAH MU



suara berat itu membangunkanku...
pada mimpi semalam

ah, segera kubuka mata,
berlari kebelakang membasuh wajah
dengan air di pancuran

mimpi itu.

suara beratmu terdengar di balik peraduran
"maa....!!"

ah...
kau lah disampingku sekarang.

KASIH ...



Saat hujan turun dan mendengarkan, ia merekam setiap kata yang melebur dalam percakapan.
senja di awal desember. Kau pernah bilang, bahwa cinta tak seindah setia, sejak dulu kita di lahirkan, sejak kita ditakdirkan.

Kasih adalah ketulusan. Kasih adalah untuk kebenaran,
Sebab kita masih mencinta, melebihi cinta fatamorgana.

Aku telah menitipkan hatiku untukmu, dari untaian tanya bak mutiara. Hhingga aku mengeja
sebutir airmata yang menggenang dikelopak mata.remang dalam kegelapan, kau bilang kita 
akan bermetafora mengembalikan apa yang ada, meskipun tiada pernah ingin kukembalikan

Aku berziarah kembali, dalam kenangan awal desember. Menikmati hangatnya mentari dalam wujud kehadirannya.

Betapa aku ingin memeluknya, menyandarkan kepala, mendengar suaranya, yang terbawa kabar kicau pagi.
aku hanya mampu tersenyum, munajatkan doa sekali lagi. Aku masih tak menemui...

KESAKSIANKU


engkau embun pertama yang terbit ditemali pagi,
bahkan engkau telah serasi bersanding dengan mentari
engkau telah membawaku kembali kedalam pelukan hangat
yang semula beku dan mencairkanku

lewat beranda aku telah sematkan purnama
dalam tepian yang tak terlihat

kesaksianku, hidup dari sosok lembut yang 
mengajarkan aku kuat
kesaksianmu, meminangku mengubah aksaraku
menjadi senandung puisi cinta dan bercerita

puisimu adalah isyarat yang tak terwakilkan
hingga aku tak ragu untuk mengatakan aku rindu.

I MISS U



padang rumput itu adalah rindu
yang setiap langkah menyeret menyuburkan hariku

padang rumput itu pernah terkenang
namun kini subur menjadi ilalang

aku menemui sebutir embun yang masih menyala
di sibak perdu hijaunya.
ingin meminang ribuan tanya, namuan tak tercipta jawab menjelma

begitu sulitkah cinta yang sebenarnya
dan begitu sulitkah melupakannya

engkau diantara satu dalam ruang yang sama
dengarkan aku..biarkan kau menjadi sabda 
dan aku hanya secoret tinta.

MENCOBA


seperti aku memandang
begitupun detik menyatakan
aku berbaring
ditepi jalan yang mengering


mencoba melukis kembali
lukisan inggatan yang tak pernah kembali
yang pernah melebur, pupus
di balik bibirku yang basah

warna kesedihan menjadi warna hitam
ia telah melingkar dalam rona lentik mata
warna cinta menjadi warna merona
yang membakar pipi saat aku menyebut namanya

BERSAMA MALAM



sentuhlah
sebelum jemari tergenggam
sebelum pagi
pergi undur diri

rebahlah
dalam sandaran yang bisa kumengerti
berkata tentang
arti setia, arti abadi
arti menanti, 
arti sabar dalam memahami

usaplah
saat menggenang, sebelum jatuh
dan mengalir di rona pipi
sebelum pecah tangis
dan menjadi tangis terkikis

buka pelukan
seolah disanalah aku dilahirkan
dalam malam yang dingin
mungkin bersama malam
aku meneteskan kesucian dari sayap sayap cinta

biarkan dia menjadi selimut hangat
menanti fajar kembali menyemat

Kita adalah sebuah elegi,


aku benci suara gemuruh
dari mendung hitam yang menggantung di awal senja
sebentar lagi hujan
menyentuh kulit dan memainkan perasaan kembali

kita adalah sebuah elegi, dimana menjadi paragraf yang berbeda
aku dan engkau, mengisyaratkan nyanyian pelangi dan hujan

* gantung kisah di pucuk cemara
yang disaksikan dewa keberanian
jaga nafas kita, hela dari rahasia kecil yang terpencil

ADALAH CINTA



Perempuan itu menuliskan
: airmatanya lebih percaya hati

sesunyi gerimis di lengang kertas puisimu, cinta bukanlah lelaki yang menaruh mesra sembilu

bukan sajak bunga-bunga di pesta semusim gugur, bulan hujan

bukan rayuan Bethoven dalam rintih piano di penutup pertemuan

Bagimu, cinta adalah kesementaraan kata-kata
yang lengkap perih dan manis di setiap keraguan

Bagimu, cinta adalah drama sederhana kesendirian yang indah tak termiliki

tapi bagiku
cinta adalah ketika aku menulis puisi tentangmu


Oleh admin SAS