Selasa, 29 Januari 2013

MAAF DIA BUKAN PELACUR? kata lelaki buta


oleh Siti Khadija Mahadiba pada 28 Januari 2013 pukul 14:46 ·


Matanya kosong ia hanya mampu melihat satu warna, yaitu gelap. Dia hanya mampu menggapai satu warna, yaitu hitam. Matanya adalah sebuah tongkat bambu tak berukir. Kesepian menggelayut, kesedihan berselimut. Dia hanya mampu mengembangkan senyum tulus dari sungging bibir kering.

Tak ada yang salah dengan dua bola matanya, tetap berbinar tapi tak bersinar. Buat dia tak ada yang istimewa selain sebentuk raga dan jiwa bahagianya. Apakah dia bahagia? Mungkin, mungkin hari ini, atau mungkin nanti. Achh…aku hanya menyaksikan nya.

Matanya mencalar, menyibak semua pandangan dari gelap. Buat dia hari berlalu tanpa terlewati siang.

Malam itu seperti biasa, perjalanan kecilnya diawali dari sebuah taman kota. Sebuah taman yang hanya mampu dia bayangkan. Kadang tangannya menari-nari mencoba melukiskan, kadang pula matanya seolah bicara, mencari sumber suara yang ditangkapnya.

Hmmm…taman inilah tempat dia membangun kebahagiaan. Disini dia bebas melukiskan tawa, tangis, dan suara jerit bocah-bocah, kehangat keluarga yang tergambar dari tawa mereka.

“Biarkan aku egois, menikmati taman ini sendirian”. Batinnya.

Malam semakin larut, lelaki itu merapatkan jaket tebalnya. Tangannya meraih, mencari tongkat bambu yang terjatuh. Uhhh….desahnya.
Tiba-tiba sayup terdengar suara rintihan, entah dari mana asalnya. Yang pasti dia mencarinya, suara itu semakin jelas, setelah dia menemukan bangku kecil di ujung taman, persis dibawah pohon teduh.

Dia wanita, dan itu suara tangisannya.
“Kenapa?” Tanya lelaki itu, berusaha menenangkannya. Sementara wanita itu tersentak, sesaat dia mencari wajah sumber suara yang bias karena lampu taman yang temaram.
“ohh, gak ada apa-apa. Hanya sebuah peristiwa kecil.” Jawab wanita sambil terisak.
“Peristiwa apa yang menyebabkan seorang wanita mengeluarkan air mata, hingga terisak. Begitu kecewakah?” Tanya lelaki itu kembali.

Dan wanita itu memulai ceritanya.

Dia Hanum, seorang pengajar di salah satu universitas swasta, dan malam itu dia mengalami peristiwa. Dia dirampok, semua habis tak bersisa. Bahkan dia dicampakkan oleh perampok begitu saja. Sampai akhirnya dia berjalan, semua terkoyak bahkan baju dan jilbabnya. Dia malu, dia merintih. ceritanya.

Akhirnya matanya berbinar, dia merasa tak buta. Lelaki itu semakin bersemangat berjalan ke taman, dan menanti berjam-jam. Hanya untuk mendengarkan sebuah sapa “Hai…” kemudian pergi kembali. Dia seolah mampu menggambarkan sosok tak berwarna member warna-warna cerah di hidupnya.

Akhirnya seperti biasa, pertanyaan kembali muncul. Pertanyaan dari suara hatiku. Abadikah bahagia itu? Mungkin, sekarang sampai nanti. Bagaimana selanjutnya? Aku tak mengerti.
Yach…dia hanya menjawabnya begitu. Kala malam, saat malam yang ditentukan. Lelaki buta, ingin mempertahankan bahagianya yaitu meminang wanitanya (Hanum). Tak seperti biasa, malam ini angin menyibak keras daun-daun rindang, sepertinya alam mengoyak memperdengarkan suara ramai dari dedaunan pohon teduh.  Detak jam berlalu, dan angin malam masih terus menemaninya. Hening, sepi ..

Dia berdiri, aroma wangi khas tercium dilobang hidungnya. “Hanum, hanum…” bisiknya sambil mengambil tongkat. Dia mencari sumber harum yang sudah menjadi kebiasaanya. Dan dia menemukannya, mendengarkan suara percakapan keras, juga sedikit berbisik. Dia memperjelas pendengarannya. Yach…itu suara Hanum, dan dua suara yang berbeda. Siapa? Tanyanya menyelidik.
Akhirnya percakapan itu ditangkapnya. Dua lelaki bersuara kasar itu memaksa Hanum. Sembari mengumpat ..”Dasar Pelacur!!”

“Maaf dia bukan pelacur!” kata lelaki buta  tiba-tiba. Yang kontan membuat Hanum tersentak. Kemudian menggiringnya untuk pergi. Namun lelaki buta itu tetap berusaha menghadap kedua lelaki bersuara kasar itu. Yang arahnya membabi buta. Suasana begitu ramai, dan gaduh akhirnya sirine polisilah yang menenangkannya.

***

“Aku memang pelacur..!! dan yang merampokku ada mereka yang mencampakkan aku, tanpa memberi apa-apa?” akunya malam itu kemudia berlalu.

Seketika lelaki buta itu limbung. Semula yang gelap menjadi hilang. Dan benar dia kehilangan.

Lelaki buta masih setia, duduk disebuah bangku taman kota. Kata-katanya yang dipersiapakan untuk melamar sang wanita tercekat. Meski Hanum telah mendustainya. Dengan mengawali kisah pertemuan yang berbeda, tanpa mengatakan siapa dia sebenarnya.

Lelaki buta itu menggapai gelap yang luas, sungguh keistimewaan adalah hakiki. Tanpa bahagia di merajut hidupnya. Tanpa senyum lagi di bibir keringnya. Hanya tatapan kosong yang mengabur bersama desir angin yang sontak mengalir. Dan suara hatinya berkata kembali, Abadikah bahagiamu? Dan dia hanya bergeming.“Kau bukan Pelacur untukku, Hanum.” Suaranya berhenti

:: Ketika aku bicara soal cinta, aku sering mengatakan cinta begitu sederhana namun suci. Kehilangannya tak akan pernah terganti. Ketika aku berkata tentang lelaki buta yang mencintai hanum? Butakah dia?

Cerita Mahadiba
(maaf jika penulisanku kasar. Sekali lagi maaf)




3 komentar: