Rabu, 30 Januari 2013

abadilah.


nanti kenangan itu akan merenggutmu,
menguras segalanya.
aku ingat pada hujan yang sama kita sua.
saling merangkai, saling memagut rasa.
rasa yang mengijinkan aku khilaf
rasa yang menyatakan.."hai bangunlah! ini nyata."
rasa yang tak diijinkan otakku berharap.
tapi seperti masih aku, dan kamu

kita tak pernah ingin begitu, meski mengusir rasanya tak mau
tiba-tiba dan tak terduga rasa itu tanpa permisi
mengorek hati, memberi garis pada puisi

ahh...
coba kau pahami, bukankah kita itu seperti 
sepasang liliput, kerdil, lucu, ajaib.
ya..kita punya serbuk ajaib yang bisa menyulap 
kata menjadi senandung jiwa
kita bersayap
ahhh...gak ya...xixixixi

riuh penat mengembalikanku
pada realita yang kupunya
saat nanti aku meninggalkanmu disana
di dunia yang tak terlihat
aku menemukanmu dekat, 
menyimpanmu..niat
tanpa kutinggalkan sisa asa itu.
sedikitpun..sedikitpun

maka biarkan saja ini bertahan sampai sekarang
sebelum semua menjadi abu-abu,
menjadi dejavu
karena aku ingin menemuimu sebelum dejavu

abadilah.

6 komentar:

  1. Knapa aku tak diizinkan lg?! Hehehe.. :@

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam santun sahabatku saiful

      Hapus
  2. Mantap banget nih puisi, sangat menyentuh.

    BalasHapus
  3. Salam kenal aja mbak, saya sangat suka sama puisinya.

    BalasHapus