Jumat, 18 Januari 2013

"dia", perumpuan anonim yang mencintaimu


ini bukan tentang musim puisi yang hampir mengering
tapi ini tentang gerimis yang dilahirkan dari rahim langit.
tatkala suaranya menelisik jemari
segaris celah rindu bersembunyi

...


ini pena yang berujung tinta,
mengikat erat pada jemari lentik "dia"
kemarin "dia" menuntaskannya
melanjutkan sisa puisi yang tak jadi
ada yang bungkam, ada yang tak mau diam
kau tau dimana? yup!! digejolak hati

gugusan bintang menyemai
meski gelap belumlah datang
"dia" mendengar penggalan suara 
tak berempunya...dia siapa? untuk apa?

seperti sutra yang terpintal dari sari jerami
tak ayal terjadi..
berulang penggalan suara teringang
dan menjelma menjadi rangkuman aksara

"dia" menangis..
"dia" berteriak..

mengapa kau gagu, mengapa kau bisu
puisi itu tak pernah jadi
tak pernah...

"dia", perumpuan anonim yang mencintaimu

Maaf aku selingkuhi waktu


seperti lupa, saat mulai berprosa
berpuisi...
maaf aku selingkuhi waktu
karena aku bahagia berpagut manja dengan keduanya
aku dan puisi


Ini padamu


padamu aku melontarkan prosa atas nama kedekatan,
kita berkarib bahkan terjalin bagai temali kuat. 
saat kita terpejam, ada sumbar realita yang menggeliat.
drama cinta romantis, dengan cita cita cinta yang belum terealisasikan manis.
aku merekam semua pergumulan rahasia dari hati fana ke hati nyata
sepasang manusia.
seperti.. pernyataan cinta yang tak terhingga

padamu kita bertautan, seperti berpegangan tangan
pada ujung hujan dan berhenti saling menanti pelangi.

xixix...lucu, jika begitu, kita seperti 2 bocah kembar
yang berlarian menembus hujan. kita tak berpayung..membiarkan kan saja,
hujan membentuk lekuk tubuh kita.

hmmm..padamu ini mimpi yang dilontarkan atas nama keinginan.
jangan pernah selesai, atau jangan berhenti tak beralur rapi. 
endingnya harus tersenyum. xixixi

seperti sekarang..seolah aku melukis warna putih dari bekas napak tilas
candamu. memberi jalan kecil tak berbatu ke arahku, padaku.
begitulah jika padamu kita berkisah, berdrama romantis.
cuma kita..dan ratusan pernyataan cinta yang tak terhingga.

pada siapa? ya..padamulah....
xixix

Kata-kata yang kubaca dari skenario


aku membacakan puisi pada setangkai mentari,
yang kusunting dari bunga matahari.
lantas aku membawanya pergi, 
disuatu taman tempat tumbuh pohon-pohon rindang.
aksaraku menyebar sampai ke penjuru langit
serpihan maknanya berhembus dan terhirup dari sedah nafasku.
hhmmmm...
kata-kata yang kubaca dari skenario 

Aku merekam untukmu


aku merekam untukmu, ketika gerimis menggantikan hujan.
saat mendung mulai memikatku, saat sendu benar-benar merampungkan rindu
dan saat resah diam menyerah.
aku menyimpanmu dalam labirin menunggu.

AKU BELAJAR


aku belajar menyederhanakan rasa, belajar mengungkap bias,
belajar memaknai rasa, sederhana..begitu biasa.

aku belajar bukan sekedar lewat tulisan namun dengan sentuhan.
belajar berucap lewat suara, bertutur lisan masih sederhana sederhana. 
belajar berekpresi lewat sungging senyuman juga rengkuhan.

darimu, denganmu, aku belajar menerima kekurangan,
menikmati terbang, menikmati setiap peristiwa
menjadi butiran mutiara kenangan yang ku temukan. 
aku belajar rela, apa adanya, apa kau bilang...hmmm? 
rock n roll ya..

dan kini masih denganmu aku belajar kehilangan
tapi bukan menghilangkan

Jumat, 11 Januari 2013

Ternyata aku tak bersayap.


dan ini seperti jalan beraspal yang basah, aku berdiri diam dengan balutan kain hitam
dan kau berdiri berlari memutih.

ini adalah isyarat, 
sepasang malaikat sekarat, terkulai lemah tanpa sayap dan yang satunya menenangkan diri diujung cakrawala menghitam...dia kelelahan


selembar prosa tak bertuliskan nama, terjatuh dari angkasa. menjuntai, terombang-ambing disebuah dahan rapuh. dari mana dia? kenapa begitu tiba-tiba? 
dua tanya menghujani ku, silih berganti tapi masih tak tertemui jawaban yang pasti.

diluar hujan..
sejak abjad pertama dari sebuah prosa kubacakan. angin merintih, rintikpun menitih..
ini seperti sebuah airmata. ada kisah tawa yang mengatasnamakan cinta dan sesal.

malaikat itu adalah sebelah hati, dia berkata "akulah jiwa hitam yang kelelahan mengikutimu, dan aku jiwa putihmu yang berjuang menuntun melawan kelelahan"

aku tersenyum, prosa ini adalah lembar catatanku sendiri, dimana aku berdiri dan berpijak mencari keberadaan hakiki.

aku merengkuh tubuhku sendiri ... ternyata aku tak bersayap.


Kamis, 03 Januari 2013

MISS U


aku rindu untuk melangkah ketika aku terjaga
aku rindu untuk tidur saat aku mendamba
aku rindu untuk menangis ketika aku peduli
aku rindu untuk tenang ketika aku ingat takdir
aku rindu untuk KAU temukan ketika masih sanggup untuk setia

ketika hujan aku rindu kemarau
ketika terik aku rindu kesejukan
ketika gerasang aku rindu kedamaian

sepanjang tandus langkah kujejakkan
ditiap incinya menyisakan do'a

aku hanya ingin sejenak, menghabiskan sisa waktu 
hidup ....dengan-MU

Kita adalah sepasang mimpi.


kita adalah sepasang mimpi.

seperti bintang berpegangan kuat pada galaksi rase bintang diangkasa.
langit adalah tempat aku menempa, memaku jiwa. kala purnama mulai menyapa.
dan kita sempat terlelap sambil memegang mimpi menjadi imaji abadi,
dan tak mengenali kembali kemana kesucian langit yang menggariskan takdir kita.

kembali terulang, menjadi kenangan yang melahirkan senyuman membuat kita tegar, berhadapan
meski bayangan lintang memudar. 

genggam tanganku? musim ini kita telah menyala api kemudian kita mengharap kelahiran hujan
dan yang terakhir kita mencoba meraih pelangi. kita seperti sepasang daun yang terlontar dari ranting
dan terjerembab pada tanah basah, kadang dingin kadang berputar-putar pada masa siang dan malam
hujan dan panas.sampai benar-benar terhempas.

tatkala kupandang purnama pada temaram kemarin. 
ada masa yang masih berputar mengelilingi curah airmata, desah sapa telah kita suatu awal, dan pada
heningnya penantian telah kita jadikan cerita yang terlupakan.

genggam tanganku? sesungguhnya kata-kata yang terurai lepas, adalah janji yang telah diucapkan, menjadi patri
dalam lubuk jiwa terdalam. 
kemudian menjadi hamparan pada kepasrahan kita menyerukan cinta sebagai segalanya. yang membuat sempurna.

kita adalah sepasang mimpi, yang meninggalkan purna, mengejar jejak matahari untuk menghangatkan jiwa kita.
melupakan bahwa telah ada air mata yang tak mengalir diatas ketentuan cinta pada derai doa. 

MATI DALAM PELUKANMU


sesungguhnya
kematian telah mengubur jiwa
dalam pelukannya

dan burung nazar telah
lama mengabarkannya

AMARAH


boleh kau tumbangkan aku
boleh kau patahkan aku
tapi..
jangan sekali-kali 
patahkan "mereka"
karena jika kau berani menyentuh jiwa suci mereka

kau bisa berhadapan dengan ku.
karena aku tak akan diam

:jika perempuan menggeliat


*AKU BERBICARA  PADAMU!!!

Believe in me


tetaplah disini
berjalan disisi
wahai engkau sang hati...

kita bagai pendaki
tertatih berjalan menyusuri
bukit terjal dimana nurani bersembunyi
sampai ke ujung menempa kabut yang terselimuti

genggam tanganku
erat pelukan lenganmu
wahai engkau pemilik kalbu...

kita bagai sepasang jiwa buta
menitih lembah terjal dengan gelap
meraba di tiap tikungan kerapuhan
mengalahkan keheningan menjadi keteguhan

ku ucap sekali lagi padamu
wahai engkau sang penguasa sanubari...

kita hanya sebatas lingkaran
yang hanya punya satu titik keabadian
saat keluh mengalir biarkan kita saling membasuhnya
saat air mata mulai menetes di sudut pipi kita saling menyeka
ketika kita lelah, menundukkan wajah
kita dendangkan kembali bait-bait maha cinta yang kita buat
tersenyum merekah dan melenalah jiwa.

disetiap perjalanan kita, bawalah lentera keikhlasan
rentangkan sesak yang menghimpit rongga dada
dan biarkan rangkaian sesal berbaring menjadi tumpuan kita berjejak
sayang...aku berujar kembali padamu

kekuatan cinta akan hadir abadi
jika sebening air mata tak terlukiskan digaris senyum
hari-hari kita. 

................................ percayalah.


PUAN


puan..
menetes lagi
sebutir sulaman dari kelopak mata terjatuhkan, 

menatapnya, 
memangku setiap kalimat yang digoreskannya

menunduk,
berkali-kali aksara itu tumpah di pangkuannya,
dia tertunduk lemah.

untuk kesekian kalinya, aku tak mampu mengeja 
maknanya...
seperti hilang pudar, terbawa warna langit yang pudar
oleh kedatangan senja.

untuk kembali kesekian kalinya..puan berkata

"janjimu pada sang maha, kan kubimbing kau
saat mengeja puisiku, kita remah bersama resah dalam kegamangan"

"aku ingin mencintaimu seperti aku yang menciptakan rasa itu,
aku enggan bersembunyi dipadang ilalang kemudian merangas dan terbakar sendiri"

kau berdiri,
menjamah pandangan, menelusur setiap lekuk senyuman dan berkata....

"kita ada babak dalam ruang keinginan yang mendalam,
kita adalah percintaan dari sebuah cinta sepasang manusia 
yang hanya bermain dari nafas dan meniupkan kembali sebuah makna cinta.
kita adalah sepasang ketakutan yang enggan berhenti untuk saling memahami.
kita adalah sebuah pena dan tinta yang tak lelah menggoreskan sebuah kisah dari sebuah puisi hati"

sayup-sayup puan berkata,

"kita adalah kemasan dari jejak mereka yang meninggalkan"