Jumat, 30 November 2012

MENCOBA


seperti aku memandang
begitupun detik menyatakan
aku berbaring
ditepi jalan yang mengering


mencoba melukis kembali
lukisan inggatan yang tak pernah kembali
yang pernah melebur, pupus
di balik bibirku yang basah

warna kesedihan menjadi warna hitam
ia telah melingkar dalam rona lentik mata
warna cinta menjadi warna merona
yang membakar pipi saat aku menyebut namanya

BERSAMA MALAM



sentuhlah
sebelum jemari tergenggam
sebelum pagi
pergi undur diri

rebahlah
dalam sandaran yang bisa kumengerti
berkata tentang
arti setia, arti abadi
arti menanti, 
arti sabar dalam memahami

usaplah
saat menggenang, sebelum jatuh
dan mengalir di rona pipi
sebelum pecah tangis
dan menjadi tangis terkikis

buka pelukan
seolah disanalah aku dilahirkan
dalam malam yang dingin
mungkin bersama malam
aku meneteskan kesucian dari sayap sayap cinta

biarkan dia menjadi selimut hangat
menanti fajar kembali menyemat

Kita adalah sebuah elegi,


aku benci suara gemuruh
dari mendung hitam yang menggantung di awal senja
sebentar lagi hujan
menyentuh kulit dan memainkan perasaan kembali

kita adalah sebuah elegi, dimana menjadi paragraf yang berbeda
aku dan engkau, mengisyaratkan nyanyian pelangi dan hujan

* gantung kisah di pucuk cemara
yang disaksikan dewa keberanian
jaga nafas kita, hela dari rahasia kecil yang terpencil

ADALAH CINTA



Perempuan itu menuliskan
: airmatanya lebih percaya hati

sesunyi gerimis di lengang kertas puisimu, cinta bukanlah lelaki yang menaruh mesra sembilu

bukan sajak bunga-bunga di pesta semusim gugur, bulan hujan

bukan rayuan Bethoven dalam rintih piano di penutup pertemuan

Bagimu, cinta adalah kesementaraan kata-kata
yang lengkap perih dan manis di setiap keraguan

Bagimu, cinta adalah drama sederhana kesendirian yang indah tak termiliki

tapi bagiku
cinta adalah ketika aku menulis puisi tentangmu


Oleh admin SAS

Jumat, 23 November 2012

BANGAU



ketika
musim tanya berucap malu
musim waktu melingkar gersang
aku terbawa bangau terbang
kemudian bertengger didahan
bulu putih laksana awan
dan paruhnya saling berpautan

..maaf aku tak bisa melanjutkan, karena ranting gerasang, daun daun kerontang. Dan bangau membawaku berkeliling di cengkeraman kaki dan kuku yang tajam..

maafkan aku

SAJAK HIJAUKU


Bersyairlah untukku
suarakan aku tentang bagaimana kekuatan makna
biarkan aku seumpama peri kecil 
agar aku bisa berkaca pada beningnya puisimu


gugur daun kecil flamboyan
berarak terhuyung terpecah disapu sang bayu
seperti butiran rindu yang jatuh dipelataran kalbu

angin berbisik sepoi
mengalun merdu meninabobokanku
dan rintik hujan meneduhkan mulai menyapa
gerimis merangsek lamun keterpaksaan

bersyairlah untukku, seperti sajak hijauku
hijau dalam rimba raya, kuumpamakan itu jiwaku

KENALILAH CINTA SEBELUM ...



kenalilah kembali bagaimana cinta menyapa
dia akan menjadi begitu dalam, sangat dalam ketika kepergiannya
dia akan mencairkan kembali hati yang dihakimi ribuan sesal
dengan sang titah kesuciannya...
seperti bulan dalam pelukan bintang, dan fajar menghampiri pagi.

aku jatuh cinta pada hujan



aku jatuh cinta pada hujan
karena hanya dia yang bisa mengurai air mata
menjadi butiran kesejukan


hingga aku berserah pasrah
dan harus kurelakan kedua tanganku bertengadah basah

INI BUKAN PUISI


aku hanya membuat bait
dari kumpulan kata
terbentuk sedikit sempurna

aku hanya menggoresnya
tanpa sekat terikat
dari isi hati yang merasa pekat

aku hanya mengungkap
dari kata yang tak sempat terucap
yang aku ingin
yang aku mau
yang aku rasa
yang aku cinta

sungguh ...
hanya itu,
dan jangan cemburu

SAAT ANGIN DAN HUJAN


TENTANG SEMALAM SAAT ANGIN DAN HUJAN

tentang angin dan hujan
yang membaringkanku semalam
aku membangun ombak yang beriak
tergulung lirih dipesisir pantai

tertulis cinta yang dikabarkan angin malam
sengaja sebelum malam terpejam

susunan rindu menjadi sketsa
dalam taburan kata yang tak berjeda
membakar kubahan jiwa yang sendirian
membujur gemulai dalam sekat bagaikan rama-rama

rebahlah,
dibatas ini aku mengunci 
membiarkan hujan memangku kalbu
hingga nanti
bukan nyanyian atau puisi
namun uraian kata yang membuat debar jantung

pagi menjamah, memapah jemari yang basah
tanpa kutinggalkan bekas rindu
tanpa nama tanpa jiwa
karena sesungguhnya engkaulah sang tujuannya

hhmmmm


setengah berlari kubiarkan jiwa tergetar
rubuh, susah payah kupangkas kata liar
gemulai tarian samar, melonjak girang
sang bidadari tersenyum, memungut satu persatu aksara yang terpagut


JANGAN BAWA DAN JATUHKAN AKU



jatuh juga akhirnya
menjelma kabut yang dibisikkan aksara

meratap pasir yang tak bernyawa
memaknai keruh bekumu yang merana

cukup, cukup, hentikan ini
aku, aku pernah kembali
tak pernah mencari
karena hitam masih saja menghantui

jatuh juga akhirnya
sayapku tlah patah dan 
jemari menggiringku pergi

perih menjalar disepanjang puisiku

Rabu, 21 November 2012

PUISI ITU AKU ATAU KAMU



aku adalah pena yang terbungkus jejak rindu
aku pernah besimbah pilu diujungnya
dan secarik kertas menarikku
untuk kembali menulis keharuman rindu
harum tinta yang berkecipak dilembar puisiku

siapa? 
: itu kamu

tiap bait yang tercurah
mengungkap lembar sedera kisah
mengutus ritme cinta di sana
dan aku satu puisi 
yang utuh di jemarimu
elok dalam sejuk rengkuhku
mengayun sejuta mimpi bertepi
menitis dalam peraduan kepak sayap di alur pelangi
hmm, cinta
engkaulah puisiku bermata bulan

siapa?
: itu aku

tentang aku,
tentang bagaimana hasrat bermandikan rindu
seiring bening wajah tersirat ditelaga kesucian
para malaikat mengusung bait suci pada puisi,
mereka membubuhkan azimat cinta yang terampas saat senja mulai menyapa
dan
sekali lagi puisi-puisi
yang mampu menembus batas kalbu
dan terlanjur melekat dirahim jiwa jiwa
aku mendengar, membaca dan melihat isi hatinya


(aksara antara aku dan kebo)