Selasa, 10 Maret 2015

Saat

Saat kehadiranku semakin hari semakin kau abaikan,

aku tahu satu-satunya cara terbaik adalah mundur perlahan.

Bunga Jambu

senja,
bunga jambu,
serta tanah basah

ini hanya tentang waktu
dimana aku punya satu harap

langit sesaat mengatup perlahan
dan layar awan pergi entah kemana

puisi juga sejuta makna mungkin indah
namun mungkin tercipta dari air mata penyairnya

sudut bibirku ..
aku ingin menyembunyikan luka
jauh dari tanya
jauh dari ketiadaan
jauh dari kepahaman

...

senja
bunga jambu
tulisan ini kubuat begitu saja...

Ssst....Kekasihku...aku pengen Baby



Ssst....Kekasihku...aku pengen Baby

Hhhhh...aku mendesah

kepada hujan yang turun setengah setengah malam ini
angin yang gigil merangsek tulang
tanpa bulana
tanpa bintang

kau dengar ..
serangga malam seolah diam
nyanyian yang semula bising tak ada lagi

hhhh...
aku mendesah

aku mencoba membaca langitmu
meraba apa yang terjadi dengan malam ini

aku mendesah lagi...
hhhh...

yang kupahami, aku masih membacamu sendiri...

BAHASA CINTA

Bahasa Cinta.

senyum tertinggal disebuah dusun
berakhir pada lukisan tangan

yang mengisi malam
mengisi siang
mengisi kesendirian

terangkum dari cahaya yang tak berujung
dari love story
mengantarku, kembali menenun benang itu
dari sepasang sayap rindu yang tertatih

bintang jatuh
dari pengakuan bibir purnama
aku mengingkan dia
menjaga canda
mengupas rahasia dari segenggam hati

dari pintu janji
hadir kecupan dari guratan takdir
aku menjadi pemalu

Tuhan telah meminjamkan kita pada rasa sakit

Tuhan telah meminjamkan kita pada rasa sakit
yang melantahkan hati
kita sama sama luka
sama sama patah

kesempurnaan cinta,
apa yang bisa kita ambil dari sana
tak ada yang bisa berbincang denganku
selain hembus angin, pijar bintang, malam yang benar benar malam
sampai butir embun setelah pagi

kita sama sama beku
apa kau masih percaya?
badai mungkin telah memorak porandakan pijakan bumi
namun masih tersisa jejak-jejak hati untuk saling menguatkan
bertahan
berserah pada cinta

Mungkin..aku tak pernah memahami..

seperti hari ini, esok, kemarin
akhirnya kita tak sanggup menguatkan kerinduan
pada batas yang keterlaluan

kita hanya mampu
memahami
tak lebih...

menjumpai cinta
rasanya seperti warna hitam yang pekat
pahit

waktu seolah mengajak kita mengerti dari cinta yang belum kita sanggupi
atau biarkanlah waktu yang mengingatnya dari bahagia yang pernah tertunda

"jangan menangis..." katamu

seperti saat ini,
seolah pohon teduh,anak sungai yang mengalir bening dibawahnya
pada rakit kecil dan bunga bakung
kita pernah duduk disana, bertukar sastra
kemudian membiarkan hati menyegarakan luas, tuntas
sampai kayuhnya tak berhenti

"ya.."
mungkin aku tak pernah memahami alurnya

"tentang apa yang ingin aku katakan, pada hari ini...maafkan aku."

UNTUK YANG BELUM BISA KUBUKTIKAN


Mungkin apa yang kita hadirkan disini
tak lain hanya untuk membuktikan
"begitu sejatikah sebuah cinta?"

sebagai jarak, aku hanya mampu mengisyaratkan
engkau sebuah akhir dari tumpuan airmata
sebagai kuasa, kita sama-sama terjebak
dari riwayat yang saling menggengam

kau tau, sayang..
ketika kita menjadi satu perjanjian
itu adalah luapan karma yang sudah kutimbun jauh dalam hatiku
meskipun kita menghabiskan hari hari
menjadi diam, menjadi tenang

kau percaya,
sehelai doa kudatangakan dari seribu keraguan yang
pernah kau panjatkan....

CARAKU MENYAPAMU

selamat pagi...

hei
aku menyapamu
entah, pagi ini aku ingin romantis
membuka jendela, berdiri menatap bulan yang sebentar lagi pamit
pena, gelas kopi sisa semalam dan selembar kertas bergambar kita tergeletak begitu saja dimeja

semalam aku mengingatmu,
mengeja kembali jarak pertemuan
menulis bagian-bagian yang aku suka

tentu aku yakin disela waktu yang kau bawa
ada sekeranjang kenangan yang akan kau ingat

hei..
kita masih adam dan hawa kan?
itu yang kerap menjadi pertanyaanku
ketika matahari tergelincir menuju fajar
kemudian menyerahkan semua pertanyaan
pada kerinduan dari tempuhan semalam

seperti inilah, kita sama-sama meringkuk terseok menjalani rindu
sementara membiarkan semesta begitu pasrah pada musim
serupa angin dingin
kita tak pernah diam sesungguhnya
menanti geliatnya fajar
menanti tetes hujan mengendap menjadi butir embun

bias kaca jendela
tertulis sebuah nama
kemudian aku menghapusnya
ah..bukan, ini karena hujan begitu deras
kita terlalu bersajak,
terlalu berpuisi
kita terlalu sempurna untuk kisah pagi

rentangkan jarak dua jiwa
pada pupus suatu perpisahan
berkali-kali lepas
berkali-kali asa

sepi memilah diam
saling mencengkram
saling menggegam

tuan,
begitulah aku mengingatmu
pada puisi
tapi bukan ucap
karena yang kau pahami
aku bukan perempuan banyak bicara

dan kupaksa kau tersenyum,
ya...aku hanya perempuan dan kata-kata

Selasa, 10 Februari 2015

ADALAH KITA BUNGA KAPAS

Adalah kita bunga kapas yang beterbangan mencari kabar dari induk rindu
kita lalui hujan
sungai, ilalang dan jejak kaki yang tertinggal

kau panggil seluruh perahu-perahu, sebelum senja membacakan sajak kepulangan
sebab katamu, tepian telah penuh impian

Aku mengupas lamunku dalam angin, sementara kesepian sudah melangit, melayarkan tetabuh warna abu

kursi yang merunduk sendiri
menyisa kenang mengutub
beberapa sajak tanggal, sulit kuingat

seperti bunga kapas yang entah
mencuri mimpinya sendiri

-sas-

*) aku menyukai paragraf ke -4 mu

Selasa, 13 Januari 2015

Untuk Tetap Tinggal

suatu saat nanti
ada hari dimana aku datang mememuimu untuk tetap tinggal
di kehidupan yang lain

suatu saat nanti
aku terlahir sebagai orang yang sama dengan hati yang sama
di kehidupan yang lain

jadi maafkanlah kekejamanku
kejamnya aku melupakanmu

Ssst...jangan takut
aku akan ada
di kehidupan yang lain, tentunya

kediri, dikehidupan yang lain

Kamis, 08 Januari 2015

Hanya Dia Yang Menyapa

hanya

seorang 

laki laki 

yang 

membuatku 

jatuh cinta 

pada 

sapaan 

pertama,

kedua, 

ketiga, 

keempat, 

kelima, 

keenam, 

ketujuh......

dan 

ke seribu 

delapan 

puluh 

sesudahnya....

....

....

....

kediri, hanya dia

Perempuan...


Aku tak pernah melihat seorang perempuan
selain peri peri penuntun surga yang menata sepuluh jemarinya untuk sedikit harapan

"Jadilah anak-anakku yang berdiri di atas segala cinta"

Aku tak dapat membandingkan purnama dengan binar matanya
Seperti aku tak mengerti, betapa curam kerut pelupuk matanya tempat kau sembunyikan luka

"Seberapa perih perjalanan ini, jangan sisakan untuk buah hatiku"

Ia tahu... Tuhan ebih sejuk dari semilir dikeningnya
Lebih manis dari senyumnya
Lebih hangat dari aurmatanya

Perempuan
Tak akan habis kata untuk menuliskan sisah tentangnya
Tak akan cukup warna untuk melukis kehidupannya
Taka akan berhenti nada untuk mengalunkan setiap ceritanya
Perempuan,
Aku, Kamu dan Mereka
,