Rabu, 30 Januari 2013

abadilah.


nanti kenangan itu akan merenggutmu,
menguras segalanya.
aku ingat pada hujan yang sama kita sua.
saling merangkai, saling memagut rasa.
rasa yang mengijinkan aku khilaf
rasa yang menyatakan.."hai bangunlah! ini nyata."
rasa yang tak diijinkan otakku berharap.
tapi seperti masih aku, dan kamu

kita tak pernah ingin begitu, meski mengusir rasanya tak mau
tiba-tiba dan tak terduga rasa itu tanpa permisi
mengorek hati, memberi garis pada puisi

ahh...
coba kau pahami, bukankah kita itu seperti 
sepasang liliput, kerdil, lucu, ajaib.
ya..kita punya serbuk ajaib yang bisa menyulap 
kata menjadi senandung jiwa
kita bersayap
ahhh...gak ya...xixixixi

riuh penat mengembalikanku
pada realita yang kupunya
saat nanti aku meninggalkanmu disana
di dunia yang tak terlihat
aku menemukanmu dekat, 
menyimpanmu..niat
tanpa kutinggalkan sisa asa itu.
sedikitpun..sedikitpun

maka biarkan saja ini bertahan sampai sekarang
sebelum semua menjadi abu-abu,
menjadi dejavu
karena aku ingin menemuimu sebelum dejavu

abadilah.

30 menit


mendengarkan ost perahu kertas, tenang..
aku seperti punya radar neptunus :)
sambil menikmati hujan deras, jernih "menepih"

sepertinya nanti malam rasi bintang sempurna
kilau bintang menyebar, mengubah menjadi 
kabar sinis menjadi romantis.

beginilah, senja ini. 30 menit menikmati sentuhan nada yang menyentuh hati
memandang hujan,  menyeretku pada kesepian kemudian mengubah
dunia menjadi begitu magis.

tuhan sayang padaku
memberikan akhir indah 30 menit tanpa kupinta

satu saja

satu saja..sebelum aku pergi.cintai aku

Selasa, 29 Januari 2013

MAAF DIA BUKAN PELACUR? kata lelaki buta


oleh Siti Khadija Mahadiba pada 28 Januari 2013 pukul 14:46 ·


Matanya kosong ia hanya mampu melihat satu warna, yaitu gelap. Dia hanya mampu menggapai satu warna, yaitu hitam. Matanya adalah sebuah tongkat bambu tak berukir. Kesepian menggelayut, kesedihan berselimut. Dia hanya mampu mengembangkan senyum tulus dari sungging bibir kering.

Tak ada yang salah dengan dua bola matanya, tetap berbinar tapi tak bersinar. Buat dia tak ada yang istimewa selain sebentuk raga dan jiwa bahagianya. Apakah dia bahagia? Mungkin, mungkin hari ini, atau mungkin nanti. Achh…aku hanya menyaksikan nya.

Matanya mencalar, menyibak semua pandangan dari gelap. Buat dia hari berlalu tanpa terlewati siang.

Malam itu seperti biasa, perjalanan kecilnya diawali dari sebuah taman kota. Sebuah taman yang hanya mampu dia bayangkan. Kadang tangannya menari-nari mencoba melukiskan, kadang pula matanya seolah bicara, mencari sumber suara yang ditangkapnya.

Hmmm…taman inilah tempat dia membangun kebahagiaan. Disini dia bebas melukiskan tawa, tangis, dan suara jerit bocah-bocah, kehangat keluarga yang tergambar dari tawa mereka.

“Biarkan aku egois, menikmati taman ini sendirian”. Batinnya.

Malam semakin larut, lelaki itu merapatkan jaket tebalnya. Tangannya meraih, mencari tongkat bambu yang terjatuh. Uhhh….desahnya.
Tiba-tiba sayup terdengar suara rintihan, entah dari mana asalnya. Yang pasti dia mencarinya, suara itu semakin jelas, setelah dia menemukan bangku kecil di ujung taman, persis dibawah pohon teduh.

Dia wanita, dan itu suara tangisannya.
“Kenapa?” Tanya lelaki itu, berusaha menenangkannya. Sementara wanita itu tersentak, sesaat dia mencari wajah sumber suara yang bias karena lampu taman yang temaram.
“ohh, gak ada apa-apa. Hanya sebuah peristiwa kecil.” Jawab wanita sambil terisak.
“Peristiwa apa yang menyebabkan seorang wanita mengeluarkan air mata, hingga terisak. Begitu kecewakah?” Tanya lelaki itu kembali.

Dan wanita itu memulai ceritanya.

Dia Hanum, seorang pengajar di salah satu universitas swasta, dan malam itu dia mengalami peristiwa. Dia dirampok, semua habis tak bersisa. Bahkan dia dicampakkan oleh perampok begitu saja. Sampai akhirnya dia berjalan, semua terkoyak bahkan baju dan jilbabnya. Dia malu, dia merintih. ceritanya.

Akhirnya matanya berbinar, dia merasa tak buta. Lelaki itu semakin bersemangat berjalan ke taman, dan menanti berjam-jam. Hanya untuk mendengarkan sebuah sapa “Hai…” kemudian pergi kembali. Dia seolah mampu menggambarkan sosok tak berwarna member warna-warna cerah di hidupnya.

Akhirnya seperti biasa, pertanyaan kembali muncul. Pertanyaan dari suara hatiku. Abadikah bahagia itu? Mungkin, sekarang sampai nanti. Bagaimana selanjutnya? Aku tak mengerti.
Yach…dia hanya menjawabnya begitu. Kala malam, saat malam yang ditentukan. Lelaki buta, ingin mempertahankan bahagianya yaitu meminang wanitanya (Hanum). Tak seperti biasa, malam ini angin menyibak keras daun-daun rindang, sepertinya alam mengoyak memperdengarkan suara ramai dari dedaunan pohon teduh.  Detak jam berlalu, dan angin malam masih terus menemaninya. Hening, sepi ..

Dia berdiri, aroma wangi khas tercium dilobang hidungnya. “Hanum, hanum…” bisiknya sambil mengambil tongkat. Dia mencari sumber harum yang sudah menjadi kebiasaanya. Dan dia menemukannya, mendengarkan suara percakapan keras, juga sedikit berbisik. Dia memperjelas pendengarannya. Yach…itu suara Hanum, dan dua suara yang berbeda. Siapa? Tanyanya menyelidik.
Akhirnya percakapan itu ditangkapnya. Dua lelaki bersuara kasar itu memaksa Hanum. Sembari mengumpat ..”Dasar Pelacur!!”

“Maaf dia bukan pelacur!” kata lelaki buta  tiba-tiba. Yang kontan membuat Hanum tersentak. Kemudian menggiringnya untuk pergi. Namun lelaki buta itu tetap berusaha menghadap kedua lelaki bersuara kasar itu. Yang arahnya membabi buta. Suasana begitu ramai, dan gaduh akhirnya sirine polisilah yang menenangkannya.

***

“Aku memang pelacur..!! dan yang merampokku ada mereka yang mencampakkan aku, tanpa memberi apa-apa?” akunya malam itu kemudia berlalu.

Seketika lelaki buta itu limbung. Semula yang gelap menjadi hilang. Dan benar dia kehilangan.

Lelaki buta masih setia, duduk disebuah bangku taman kota. Kata-katanya yang dipersiapakan untuk melamar sang wanita tercekat. Meski Hanum telah mendustainya. Dengan mengawali kisah pertemuan yang berbeda, tanpa mengatakan siapa dia sebenarnya.

Lelaki buta itu menggapai gelap yang luas, sungguh keistimewaan adalah hakiki. Tanpa bahagia di merajut hidupnya. Tanpa senyum lagi di bibir keringnya. Hanya tatapan kosong yang mengabur bersama desir angin yang sontak mengalir. Dan suara hatinya berkata kembali, Abadikah bahagiamu? Dan dia hanya bergeming.“Kau bukan Pelacur untukku, Hanum.” Suaranya berhenti

:: Ketika aku bicara soal cinta, aku sering mengatakan cinta begitu sederhana namun suci. Kehilangannya tak akan pernah terganti. Ketika aku berkata tentang lelaki buta yang mencintai hanum? Butakah dia?

Cerita Mahadiba
(maaf jika penulisanku kasar. Sekali lagi maaf)




Rabu, 23 Januari 2013

He's


Dia adalah jarak
Dia bukan dia
Dia orang lain
Dia asing
: dia bukan pemilih 

itulah rahasia yang sebenarnya. aku menguaknya
menyerahkan pada kecewa.

Dia adalah rasa
Dia tak bicara
Dia membawa cinta sederhana
Dia ada
: dia tak memilih untuk pergi

kau telah menyesuaikanku, yang dibangun dari
mimpi yang limbung.

Masih dia :

Dia yang tak membiarkanku dingin
Dia penguat imajinasi
Dia tak pernah berhenti
Dia selalu menjadi hati

tak urung kita adalah sepasang puisi.
memilih bisu menyimpan rasa yang semakin mencandu

hei, engkau lelakiku
senja ini langit sewarna karamel
kau tau..: aku suka itu 

Begitulah semestinya cinta


dari celah angin mengirimkan resah, semalam aku mengencani langit yang sendirian.
hawa dingin melenggang sembari menebar dingin yang tak sanggup aku tepikan.
secangkir kopi mocca, menghangatkan kedua telapak tanganku. sesekali aku meneguknya.

lelaki pencuri kalbu membisu, dia tak bersuara, hanya nyanyian dari detak jantung sisa percakapan saat senja.

apa yang dikatakan tadi, 
tentang.."aku ingin CINTA yang lebih baik"

aku menatapnya dengan tatap dingin, sembari menggeser letak duduk kami
kau tau..
"wanita itu bukan barang rusak yang meski di perbaiki,
jika kau ingin CINTA dia, biarkan dia mencintaimu dengan caranya.."

lelaki pencuri kalbu masih membisu. sepertinya masih ada yang menyumbat tenggorokannya. di sulutnya sebatang rokok untuk menutupi rasa kalutnya.

aku menatapnya, mencoba mencari kembali celah tatapannya
"semua yang diawali dengan sempurna belum tentu kisah selanjutnya
akan menjadi sempurna". 

dia masih membisu, namun ada sungging kecil di sudut bibirnya : berkomitmenlah?
"komitmen lebih kuat dari pada cinta, benar?" katanya mengangkat alisnya kearahku.
aku tersenyum...merasakan nafas yang terwakili dari hembusan angin yang menemani kami.

love means to feel, not plan...
"aku mencintaimu seperti aku mencintai hidup.." kataku, sembari beranjak.

lelaki pencuri kalbu, melempar pandangan kearahku. dia merengkuh,
hanya detak-detik jantung yang seolah berbicara, mewakili rasa. berbisik 

"temani aku..!" pintanya. 

alam seolah berbicara. aku meletakkan kopi di genggaman, menatap nanar langit hitam. dan malam ini, ada dia yang menemaniku menatap langit, memilah langkahku nanti. yang rela menghargai cinta dengan membiarkan aku mencintainya dengan caraku sendiri. terima kasih.

Senin, 21 Januari 2013

PROSA HUJAN


aku suka aroma hujan, dan kau juga. setiap mendung datang
kita berdua sigap dengan tangan terlentang dan terbuka.
hujan adalah mahligai dimana kita habiskan bedua
menikmati derasnya, bercinta dengan curah dan bergumul mesra dengan genangan.
kadang bibir kita menggigil biru dan kaku, membiarkan mata mereka melihat 
percumbuan aku dan kamu.

kita pasangan serasi penyuka hujan. bahkan malam saat hujan. 
tak lelah berlarian di genangan.
membiarkan terguyur. kita tak berpayung, tak pernah ...
hingga terdengar cemburu mereka vulgar

lihat mereka, menatap jengah memandang rendah. 
Huh! apa itu cerita hujan? hardik mereka
mereka bersembunyi disudut teduh dengan pandangan lelah.
kita masih bergandengan, sembari menyebarkan prosa-prosa hujan
dan derai hujan.

"hujan adalah cinta" aku berteriak lantang

srkkk...srkkk...satu persatu tangan mereka menyobek, mencabik
prosa kita, menyebar dan lumat dengan basahnya. muntahkan semua cemburu
sinis..biarkan genang ini mengalir warna hitam dari tinta yang terbuang

hahahhha...kita bergandeng tangan

"ini adalah cinta.." bisiknya, dan aku mengangguk manja.

Minggu, 20 Januari 2013

Rindu lagi


dipersimpangan kita pernah dipisahkan
padahal langkah kecil kita pernah beradu
dan pegangan tangan kita pernah bersatu
mata kita bertemu dan pernah terpejam, 
sejenak saja.

jika bukan engkau, disitu aku merekam semua
perbincangan kita, menjadi sebuah prosa tak bernama

hmmm...
kita berjarak, padahal itu hanya sebuah pelarian yang mestinya kita tahlukkan.
kita pernah bertelanjang, aku mengukir namamu di tatapan matamu
dan kau mengukirku dalam sayap rindu, itu kamu! kau dulu bilang begitu

hmmm...
bukalah kembali kotak hitam yang berisikan puisi lama kita
yang bersembunyi diantara secangkir kopi beku dan moccachino dingin
pasti masih terdengar senandung yang bertuturkan rindu. pasti.

kau mahluk sinis yang tak bisa romantis. yang bisa memperhatikan,
mendengarkan, dan bersembunyi disatu realita maya.
ini masih tentang rindu yang diam-diam menemukanmu

Dia Adalah HATI KITA


ketika atap-atap rumah kita mulai pecah,
ada yang berhenti mematung di luar jendela
memperhatikan saja,..
dia tak bicara, hanya dia bebas menyusup dalam 
kamar kita. mencari celah untuk menimbun keinginannya.
kita..
aku dan kamu, mengurai masing-masing cerita
mengumbar perasaan yang tak sengaja.
terdiam, hanya terdiam
memandang kata-kata yang terlempar keluar dari jendela
dan dia memungutinya, begitulah dia hanya menelan ludahnya
saat cinta kita mulai ditepikan.

pelan-pelan, dia tenggelam. ketika hujan di luar jendela belumlah terang
dia melantangkan puisi-puisinya. meski basah dan melabur setiap goresannya
namun dia masih setia disana.
dan kata-katanya masih berhenti di luar jendela dalam genangan ketidakpastian

lantas siapa dia?
sayang kau tak tau siapa dia?
dia adalah hati kita.

Jumat, 18 Januari 2013

Atas nama rindu


atas nama rindu 
aku memelukmu

bicara tentang
hari-hari tanpa aku
letih
penat yang mengharu

diam..
hanya ingin merasakan 
detak resah yang ingin kau tinggalkan

atas nama rindu 
aku memelukmu
mencuri dengar dari detak jantung
dada bidang yang kau persembahkan
menikmati alur dari lajur rusuk
yang kau gambar
menikmati cerita yang kurangkum melalui
pupil mata yang menggelayut manja
di tiap kertipnya

selama  kita masih bisa
melepas lelah bersama,
biarkan saja kita  tertidur
sampai mimpi mencumbu
menghipnotis ragu
romantis melawan egoku

jika masih bisa
atas nama rindu
aku memelukmu

Ternyata aku tak bersayap


dan ini seperti jalan beraspal yang basah, aku berdiri diam dengan balutan kain hitam
dan kau berdiri berlari memutih.

ini adalah isyarat, 
sepasang malaikat sekarat, terkulai lemah tanpa sayap dan yang satunya menenangkan diri diujung cakrawala menghitam...dia kelelahan

selembar prosa tak bertuliskan nama, terjatuh dari angkasa. menjuntai, terombang-ambing disebuah dahan rapuh. dari mana dia? kenapa begitu tiba-tiba? 
dua tanya menghujani ku, silih berganti tapi masih tak tertemui jawaban yang pasti.

diluar hujan..
sejak abjad pertama dari sebuah prosa kubacakan. angin merintih, rintikpun menitih..
ini seperti sebuah airmata. ada kisah tawa yang mengatasnamakan cinta dan sesal.

malaikat itu adalah sebelah hati, dia berkata "akulah jiwa hitam yang kelelahan mengikutimu, dan aku jiwa putihmu yang berjuang menuntun melawan kelelahan"

aku tersenyum, prosa ini adalah lembar catatanku sendiri, dimana aku berdiri dan berpijak mencari keberadaan hakiki.

aku merengkuh tubuhku sendiri ... ternyata aku tak bersayap.

Aku Kangen Ibuku


nak...

aku adalah perempuan biasa
yang hanya punya rahim
punya air susu
dan satu...

aku punya
satu cinta 
yang tak tertandingi

dan aku telah menjadikanmu anak surga
karena kau dibesarkan pada surga yang sama



: sungguh aku kangen ibu :'(

Untuk Ibu


Ini, kisah dibalik aku dan ibu. ini persembahanku untuk dia : IBU

Dulu aku berdiri disebuah cermin
dalam kamarku.
dengan rambut terikat, berdiri lekat
menatap dengan jalang, mencari-cari liar.
kuraba wajahku yang masih lembut, tak tumbuh guratan-guratan 
kuraba jemari dan tangan dengan balutan kulit yang kencang
dan kedua kaki yang panjang.

"lihat ibu, aku tak cacat. aku punya dua kaki, 2 tangan?" kataku sambil meraba2 kaki dan tanganku
"apa aku buruk, sampai aku tak pantas berdiri di depan sini?" tanyaku kembali pada cermin yang bisu
itulah, egoismeku 

sampai tentang suatu malam, perbincangan dari dia dan orang-orang tersayang. 
mengatakan ini takdirmu, aku telah membicarakan pada Tuhan. dan DIA merestuinya.
aku tak bisa berbicara denganmu, kau hanya mengatakan apa yang nyata. namun
aku tak bisa melihat dibaliknya.

kini, waktu telah bergulir. dan aku kembali menatap sebuah cermin
Didepan cermin disudut pintu kamar, kubiarkan mataku menjelajah liar. Meraba gurat-gurat halus yang terlihat disudut mata, menghitung jumlah lipatan diarea perut.
Kulebarkan sedikit ujung bibir hingga tersungging senyum yang kuumbar. Realitanya aku sama, masih sama
tak ada perubahan. Ku kembalikan sudutpandang keposisi semula. Itu menurutku.

tapi aku berbeda, sejak rahimku mulai berbicara dan janinku membentuk raga.
perbincanganmu pada Tuhan, makna dibalik restumu...adalah do'a. ibu.

***
kau sejelma puisi cinta
yang bukan syahdu merayu
bukan penggal-penggal syair gombal

kau adalah syair
yang tumbuh dari putik kenanga
bunga terharum di semua semesta
sampai
rangkai aksara tak bisa menembusnya
kau tema yang tak bisa diungkapkan
hanya dengan airmata bernama cinta dan do'a
untuknya...

bahwa kita ingin pulang
kembali ketempat semula surgamu