Selasa, 10 Februari 2015

ADALAH KITA BUNGA KAPAS

Adalah kita bunga kapas yang beterbangan mencari kabar dari induk rindu
kita lalui hujan
sungai, ilalang dan jejak kaki yang tertinggal

kau panggil seluruh perahu-perahu, sebelum senja membacakan sajak kepulangan
sebab katamu, tepian telah penuh impian

Aku mengupas lamunku dalam angin, sementara kesepian sudah melangit, melayarkan tetabuh warna abu

kursi yang merunduk sendiri
menyisa kenang mengutub
beberapa sajak tanggal, sulit kuingat

seperti bunga kapas yang entah
mencuri mimpinya sendiri

-sas-

*) aku menyukai paragraf ke -4 mu

Selasa, 13 Januari 2015

Untuk Tetap Tinggal

suatu saat nanti
ada hari dimana aku datang mememuimu untuk tetap tinggal
di kehidupan yang lain

suatu saat nanti
aku terlahir sebagai orang yang sama dengan hati yang sama
di kehidupan yang lain

jadi maafkanlah kekejamanku
kejamnya aku melupakanmu

Ssst...jangan takut
aku akan ada
di kehidupan yang lain, tentunya

kediri, dikehidupan yang lain

Kamis, 08 Januari 2015

Hanya Dia Yang Menyapa

hanya

seorang 

laki laki 

yang 

membuatku 

jatuh cinta 

pada 

sapaan 

pertama,

kedua, 

ketiga, 

keempat, 

kelima, 

keenam, 

ketujuh......

dan 

ke seribu 

delapan 

puluh 

sesudahnya....

....

....

....

kediri, hanya dia

Perempuan...


Aku tak pernah melihat seorang perempuan
selain peri peri penuntun surga yang menata sepuluh jemarinya untuk sedikit harapan

"Jadilah anak-anakku yang berdiri di atas segala cinta"

Aku tak dapat membandingkan purnama dengan binar matanya
Seperti aku tak mengerti, betapa curam kerut pelupuk matanya tempat kau sembunyikan luka

"Seberapa perih perjalanan ini, jangan sisakan untuk buah hatiku"

Ia tahu... Tuhan ebih sejuk dari semilir dikeningnya
Lebih manis dari senyumnya
Lebih hangat dari aurmatanya

Perempuan
Tak akan habis kata untuk menuliskan sisah tentangnya
Tak akan cukup warna untuk melukis kehidupannya
Taka akan berhenti nada untuk mengalunkan setiap ceritanya
Perempuan,
Aku, Kamu dan Mereka
,

Kamis, 01 Januari 2015

Jarum malam dan Sepasang ciuman

bulan menggurat dari celah kerisaun
kepada jemari, ...kepada puisi
setiap kata adalah cinta
sementara puisi adalah alur sebuah rasa
kita bertukar sepi
saling membaca karya sunyi
ketika lamunan menjadi titik jauh yang tak sempat kita singgahi
aku menjaga
dan kau kusembunyikan di rusukmu
sementara...
manis, kaulumat habis semua lara
dariku
jarum malam dan sepasang ciuman
aku diam

kediri, jarum malam dan sepasang ciuman

SEMUSIM KALI INI

Suma Aji Swasana feat Mahadiba

Tentang daun pagi yang kau nanti
tentunya tentang bulan yang menipis di pinggir mataku

Angin penyingkap kabut
biar saling bertepukan tanpa harus mengerti
keraguan gugurnya gerimis yang terjatuh,
jauh dibelakang ranting rapuh

Tak lebih,
kita hanya sepasang mata dengan warna ketabahan yang sama
berdiri terjal dilorong jendela
mengurai lugu cerita-cerita hujan

Pias yang melayang sebelum terhampar dipipi daun
mungkin mewakili jumlah degup yang ada
seperti lebatnya lamunanku
menjaring berat sepi

Aku menulis puisi
kau menjelma kata
salur bayangmu menyiksa manis
sederas arus bisuku

Rebah,
rebahlah gundah di sisi kerinduan
pada sakit yang tertahan
pada bibir yang beku tak bisa mengucap
tak lebih kita menjelma
aku pada sepasang rahasia
dan engkai di tempat yang begitu rahasia

Kata-kata adalah hujan
puisi adalah daun berguguran
cerita adalah gerimis yang tertahan
seperti air mata...

Kapan kita menyelesaikan?

Biarkan redup menggulung tulisan kusam
kepada debar, kepada denyut yang bergitu berharga
mungkin kepada mimpi yang tak terkabar

Kau tak perlu khawatir dimana akhir ceritanya...

Kediri, Semusim Kali ini

MENGGUGAH CERMIN



Sebelumnya,
ketukan waktu mungkin hanya kehampaan yang lengang
melekat di kesenyapan pada dinding kosong hembusan nafasku

Cahaya dan Gelap
kau padukan di jejak panjang perjalanan
Serupa sentuhan yang menenggelamkan dan menumbuhkan raut bulan
Melepas jerit matahari
Menaruh halus sunyi pada bisikan darahku
Indah, melaburi apapu yang tak kumengerti

Kau lahirkan aku dari segala keharuman puiisi

Lembut seperti airmata
begitu ajaib dari jemarimu


-SAS-

Jumat, 14 November 2014

RAIN

Senja
hujan
dan perasaan?

hujan
senja
di hari ke tujuh bulan november

selamat hari senja,
pria bermata hujan
seribu gerimismu datang
menetes diam diam
di ujung sepatuku

saat aku
dan wajahku
terbuka di dalam jendela

seperti kicau burung gereja
yang telah jatuh cinta

selamat hari senja,
kutemani jalanmu
meski hujan memekik
merayakan suka
luka
merayakan cinta

Rabu, 29 Oktober 2014

Bangunkan aku... Janji!

dan bangunkan kembali aku, janji..
seperti tak lelah senja membisikkan kata-katanya
redup..pasrah
seperti makna bahagia pada sebuah kecupan
kita enggan untuk membaginya
(aku tersenyum)

selalu ada yang benar disana
diujung kota kedua matanya yang purnama
harapan adalah waktu yang kerap membangunkan
dari benar, rindu dan kesungguhan

bukan tentang cinta
bukan pula tentang hati
tentang pinta yang dijatuhkannya
pada sematan matahari
kuselipkan benihnya
seperti aku memberi nama pada sebuah judul cerita
dalam....sangat tenang

(aku tersenyum)
mencintaimu...adalah diam

Tanya bertanya

mengapa?!

lagi, akhirnya ada perjalanan kecil yang membuat aku terikat
senyum sumringah, kala bait-bait sederhana mulai terumbar
dari lagu atau sepenggal sajak

tentangnya sang pembuat ceritalah saksinya
dan aku terima

aroma lelah telah menutup kegelisahan
dan terbaca lewat ciuman bibir
dan kau menunduk dan malu

resah.

Memahami

yang aku pahami
ketika cinta memberiku rasa bersalah

seperti setangkai ilalang yang telah habis terkikis penantian hujan
aku hanya ingin menjadi sejatinya kehadiran tanpa perpisahan
begitu yang sempat kubaca dari kedua matamu

lalu aku bertanya, apa yang kau tulis?

dari sepanjang koridor waktu ada luka yang begitu berharga
ada pedih yang habis untuk di tangisi

membaca dari langkah jenjang kakiku
senja itu...

aku hanya harapan dari sebuah kata kata "iya"

10 > 10

pukul sepuluh dari tiga tahun lalu
puisiku,
bagaimana kabarmu?

hanya sekat lima menit dari yang tersisa

satu pinta, sebelum satu kereta membawamu
"cinta akan mencarimu, seperti cinta pula akan menemuiku"

pukul sepuluh dari tiga tahun lalu

Kamis, 23 Oktober 2014

Boleh Kusimpan Rusukmu..?

Aneh,
ada satu detik dimana aku mati-matian memohon,
jangan hiraukan kepergian
lalu beberapa kali kosong menyambangiku

seperti kalimatmu...
dan biarkan kita bermain diatas mimpi kepedihan
menganyam luka seadanya
menukar tatapan pada langit sunyi

seperti luka yang kutoreh terhadapmu,
begitulah kepercayaan .."terlalu pedih, sayang" ucapmu tertahan

benar, kukatakan padamu
aku pernah mencarimu
kepada malam yang dijinakkan fajar
aku mungkin dusta yang tertampar

sampai kita rela bertukar curah
sampai langit melumat habis pita senja
dan aku harus terima, hati mana yang akan kau jaga
Boleh kusimpan rusukmu...? ujarku