Kamis, 26 Desember 2013

AKU INGIN PULANG

aku ingin pulang
dimana kita pernah bicara tentang terbang
langit dan bulan
kesebuah tempat dimana aku bisa menjadi bersamamu
untuk sekedar duduk berpegangan tangan

meneriakkan sepi mengulang kenangan
pertemuan dan awal mengumpulkan perasaan

aku ingin pulang
ke dekapan

KETIKA HUJAN TURUN

ketika hujan turun
dan lantang puisi-puisinya terbaca
kata-kata tersemat didepan jendela
biasanya kata bebas menyusup kedalam kamar kita
tapi tidak dengan ini
hanya hening, lantas bungkam dan muram

hujan masih deras
kita masih berdua dengan pikiran masing-masing
tak ada sebait kalimatpun terumbar
hanyut bersama puisi yang tak bisa ditepiskan

hujan terakhir masih deras
berdua kita nanar merelakan kalimat
yang pelan tenggelam

Senin, 23 Desember 2013

SYAIR YANG MENGISYARATKAN ..KAU SAHABAT








duniaku kini,
keajaiban yang kurindukan
dia menjelma menjadi sebuah jalan kecil
yang melepaskan aku dari persimpangan keabu-abuan
aku punya mereka
aku punya banyak cerita
tak cukup melihatnya
hanya mengenalinya
bahkan kadang aku menunggunya
seperti janji kekasih datang malam ini

duniaku adalah sesuatu yang tak menakutkan
dia seperti sebuah taman
dengan warna warni bunga
aroma dan keteduhan
kadang juga sebuah permainan petasan
xixixix

begitulah sebagian kata yang kuungkap
keberadaannya, ada meski masih dalam lingkar kefanaan
namun aku melihat keelokannya
kini kau pilihanku, duniaku sabaha

taruhlah sebuah kalimat indah
pada sajak dan syair yang mengisyaratkan
kau sahabat.


*kadang ada keinginan untuk menjadi seperti yang kemarin, dan itu manusiawi.
Benar2 rindu yang lalu.)




Rabu, 18 Desember 2013

PEGANG AKU, PUANKU


Senyawa Aksara Mahadiba, SAS

Lalu membacanya seperti sebuah sabda bumi,
dan malam telah menyediakan serahim subur untuk pengaduan

Kisah itu dimulai dari satu malam
Dia menyimpan semangat kita yang enggan padam
Membiarkan kata-kata menjadi nada-nada indah meninabobokan
Gugusan aksara dan bintang bertabur di lembar langit yang semakin renta

“Kita di sana!” (tunjuk satu bintang yang jatuh tak sengaja).
Melihat bias merona dari selembut mata itu bernyawa. Mata yang begitu hidup.

Mencari awalan cerita untuk ditulis didalam sebuah kata.
Merebahkan dada pada keheningan dan mengantarku pada rasa percaya

"Engkau esok yang membawa kisah baru untuk diseru" jelasmu

"Kita tak kalah bukan? dan kau tak mengalah bukan?" kupastikan itu. Maaf kulontarkan saja kalimat itu, ketika aku melihat raganya mulai begitu lelah, dan kedua pelupuk matanya merona. Aku yang akan memapahmu ketika kau mulai pasrah, aku juga akan memberimu nafas ketika kau mulai kelelahan.
“Kau percaya, kita pun bisa menulis takdir kita sendiri, meski Dia yang mmemegang kendali? Kau tak meragukan keteguhan kita kan?” tanyaku  bertubi

Aku,.. aku telah terlanjur mengirimkan sajak pada semesta
Di satu ruang sepi yang menjadikanku alkisah, hanya itu hanya cinta.
Cinta buat kita adalah kisah romansa yang lahir dari tetesan air mata, kepedihan, luka, bahagia. Tak ayal kita kerap melontarkan pertanyaan-pertanyaan aneh, yang memancing kita beramarah, ber api. Tau yang kemudian terjadi? Pasti kau sudah menebaknya. “Cinta kita diuji lagi sayang?”

Aku jadikan untuk ruh impian pijakan senyum tak berjarak dari tatap yang sama kepada matahari

Bersandinglah sebelum puisi kusimpan dimataku, kuciumi aromanya lalu kuterbangkan impiannya
Biarkan satu persatu kepak-kepaknya mencapai mahligai langit berdenyut mengisi napasku

Aku mengerti bergandeng bersisi adalah senyum yang begitu roman kita kutip dari buku hati
"Boleh ku ucapkan puisi untuk matamu?" kau lembut menatapku
"Aku sudah ada didalamnya, sejak pertemuan pertama itu"
Kau rebah sekali lagi, bidang kita terengkuh.
“Telah begitu adil Tuhan mempertemukan dua luka yang saling percaya”, sambil mengecup keningmu

Berjelaga
Dan telah kuhalau butir debu berkali-kali di matamu
Khayalku sejelmamu
Pegang aku...puanku

*mereka meminangnya, memintanya dari kita. terima kasih

MENCOBA MENGINGATKANMU mr. b



:> apa aku harus kembali membacakan puisi yang kita tulis disebuah meja kayu
disamping mocca kesukaanmu yang mulai tak mengepul

Di lekat usai bertatap
aku menaruh riuh alun hati
sederas senyum tipis
di ranum makna tersaji
sesejuk layar daun matamu

:> bagaimana? kau ingat itu?,
sepenggal bait yang kau tanam di segenggam tanah tandus
menunggu menyemai,


bintang seribu bintang bertabur ingatan
ketika serangkum kisah bermukim di satu musim
ketika doa terjemahkan dari pejam hingga pijar diam
adalah daun-daun gugur dan segar kemudian
adalah berdiri terpaku pada bahu tempat bersandar

jalan sunyi adalah satu pilihan
detakmu adalah cinta kekuatan
senyum yang terbias
kagum dan menguatkan

:> bagaimana? kau ingat!
ini, sepenggal lagi untuk mengingat
betapa jujurnya puisimu

aku membiar
detak palung merambat
meliat lekat harum puisi
searoma mawar di rekah gulir jemarimu
malam bersapa bulan
bintang berlari rintik
merapat tak berjarak
menyusun titian kecil

matamu puisi
senyummu puisi
hidungmu puisi
bibirmu puisi
alis matamu puisi
bulu matamu puisi

bagaimana?
jika diammu juga puisi

:> ahh,
maka ku tak berharap kau menjadi insomnia.
pada penggalan puisi akhir kita


kuamini setiap laku bintang
pada ulas buai rengkuhan tangan
pada takdir yang mengamit lingkar pinggul sang hawa
pada sesunting catatan kisah berencana

jangan, jangan tinggalkan aku pada kesaksian

:> terima kasih pada carik kalimatmu hari ini

"Aku membutuhkanmu."

Aku memilih bait terakhir untuk kujadikan ikatan
"kita hanya lamunan berparas puisi.."

Seperti sebuah cincin yang terlanjur melingkar, erat dan kuat

Sepi untukku bukan kerapuhan yang setiap saat bisa mendermaku
Sepi hanya lagu yang tak sanggup kusyairkan

Kau tau apa yang membuat kita bersekat?

Angkuh, kita terlalu angkuh untuk kepedihan
Yang selayaknya menjadi selimut kala dingin mulai membentang
Semestinya kita menjadi selembar,..sekali lagi hanya selembar saja
pinta dari kejujuran

Kau dan aku terlalu angkuh untuk itu
sama-sama bertahan untuk bersembunyi mengatakan

"Aku membutuhkanmu."

Seperti musim

Aku memilih melupakan kuncup yang berserak di terpa musim dingin.
Beku dan diam

Seperti musim
Kita enggan datang bersamaan
Aku menunggu satu musim dari mu berlalu

Kemudian semesta menyerah
Memberikan aku satu musim semi
Menjadikan mekar bunga-bunga
Kelopak mahkota merona manja
Menggantung diujung ranting yang landai

Seperti musim
Kita tak pernah datang bersamaan

PUISIKU BERNANAH

sekarang!

menjadikanmu seperih perihnya luka

puisiku bernanah

dan aku tak bisa mengobati

YANG AKU TAU KAU TETAP DISISIKU, PRIAKU


Sudah tinggallah di situ!
Biarkan aku yang menyambangimu

Seperti itulah, aku mencatat tiap bentuk ucapannya
Seperti siluet yang berbata, memucat
Langit yang tak berwarna biru

Selaksa dirimu,
Biarkan imajiku yang mendampingi
Sesekali memejam pasti
"Bahwa hampir tiap detik kutulis satu puisi untuk menjagamu"

Telah kugurat utuh keindahanmu
Percaya adalah satu-satunya bagian yang paling bermakna dalam hidupku

Gerai panjang rambutku, menyingkap dalam riuh gelombang yang kusebut hasrat,
Kau tau, ada yang ingin kurasakan nyata
Atau aku seorang perempuan yang begitu takut untuk menerima itu

Husssttt...(sentuh jemari kebibirku)

Tenanglah,
Aku adalah pria yang mengharapkanmu
Sama seperti kau perempuan yang memberi jemarimu untukku

Aku masih disini, kita..ya aku dan kamu
Perkenankan aku untuk memberi indah,
dan mengatakan...

"Aku memang pantas untukmu"

SEPOTONG JANTUNG

barangkali 

aku hanya

sepotong jantung 

yang kau tinggal 

di kediri

merah, 
berdenyut 
dan abadi

HUJAN MENGINGATKANMU

pagi ini hujan, terkisahkan dari sepotong malam
dari rindu yang tak pernah usai
atau bahkan belum pernah selesai

kata-kata menggigil telah menjebak kita
kita hanya berjibagu pada satu karma
resah...dusta

kusabdakan sebuah cinta dari satu pertemuan yang tercecer
dari ribuan rasa yang belum selesai terucap
bahwa ambil dan kecuplah satu kejora yang paling abadi dalam berpijar

achh...
terlalu sulit aku mengartikan sebuah pengharapan
dan kubiarkan saja hujan turun pagi ini
kuselesaikan pula doa doa untukmu
yang pernah tertinggal dipelataranku

aku ingin belajar tentang kesetiaan kepada kelam
yang tak pernah mengkhianati malam

SEPERTI AKU MEMAKNAIMU

akupun tak bisa mengatakan apa-apa
saat hujan melepaskan mendung dari keletihan
awan hitam bersembunyi
alam bernuansa bahagia

seperti aku memaknaimu

"jangan! jangan urungkan bahagiamu
menitilah pada embun untuk menjadi butir sejuknya"

angin meninggalkan jejak semilirnya pada daun kering
seperti mimpi kita yang berjarak,atau seperti kepasrahn waktu menghukum kita

sisakan satu perjalanan dari sebuah pertemuan
agar sampai
agar tak usai

MEMUJAKU



Sunyi, puisi tentangmu menyekap rindu yang teramat panjang,
Sekejap puisiku menjadi lengkap ketika sepasang janji bertautan

Cinta telah memberi kita ruang yang panjang untuk saling memahami
Aku dan kamu

Kita berbicara meluruskan tiap aksara pada harapan
bahkan tak jarang kita membawa airmata menjadi saksinya

Ah..
Biarkan satu persatu ranting menggugurkan daunnya yang menguning
Meninggalkan sebuah nama pada tepian mimpi
Biarkan debu membawa kepasrahan dedaunan untuk berserak
dari gemulai rayu sang angin

"Bawa aku perempuan bermata kabut?" pintamu senja itu

Aku hanya seorang yang membawa cinta pada pusara rengkuhmu
waktu yang akan menuliskan semua pada tutur puisiku
Atau aku harus membiarkan takdir memapahku

"Singgah dan berterus teranglah kepadaku, mata kabutku?" pintamu sekali lagi

Kita bernafas dari napak tilas luka
Diam dan hening adalah sisi seyap yang pernah kita lagukan
(dia yang mengatakan itu, sayu menatapku)

Sekawanan unggas pulang kesarang, rimbun ilalang riuh tak menghalang
Sebelum luka mengungkap sempurna, kuselipkan do'anya diantara tanda semesta

Diam hanya memujaku