Senin, 30 Juli 2012

Jangan pergi sebelum aku ?


Jangan pergi sebelum aku
Belum sempat
Kuperlihatkan puisi cintaku
Kepadamu

Jangan pergi sebelum aku
Belum sempat
Kubacakan sajak rindu
Untukmu

Jangan pergi sebelum aku
Karena belum lengkap
Puisi dan sajakku
Memaknaimu

Minggu, 29 Juli 2012

tetaplah disini


Tetaplah di sini, seperti dulu kita sering menatap mentari. Bersama menghirup aroma pagi yang masih bergelayutkan kabut beku. 
Duduk di pembaringan menikmati gugusan bintang dengan bentuk rasi-rasinya.

Tetaplah di sini, tapi jangan berdiri di depanku. Untuk melihat jelas raut muka, berdirilah di sampingku. Kita tanami ladang gerasang itu
dengan perdu wewangian. Dengan aroma surga yang biasa kerap kau bawa di sungging senyum dan tatapan mata. Atau ..
Berdirilah di belakangku, seolah kau bayangan takdirku. 

Masihlah di sini, dengan setia menanti bait perbait puisi yang belum jadi. Kita bersama merangkai sajak, tanpa harus meninggalkan jejak. 
Saling memilin mimpi dan membenamkan luka yang dulu pernah menganga.

Aku ingin kau tetap disini, bukan untuk ragaku, namun untuk tenang akan jiwaku. Karena matamu adalah kedamaian yang tak bisa kusembunyikan.

* Tentang setia


Belum sempat aku melahirkan kalimat rindu dalam untaikan aksaramu. Kalimat itu kudengar dari bibirmu, tapi bukan aku itu bukan untuk aku. 

Serasa hilang jiwa ini, meregang. Aku hilang akal. Seperti aku bernyanyi dalam ruangan sepi yang tak berpenghuni, hanya ditemani rasa..rasaku sendiri.

Ini tak benar dan tak bisa dilanjutkan, jika nanti hembus angin tak membawa pesan rindu untukmu, jangan salahkan aku. Aku hanya mau sedikit membuka jiwaku bahwa seluruh aksaramu memang bukan aku.

Dan untukmu kupersembahkan sepenggal sajak maaf, karena aku tak bisa lelah menanggalkan kisah yang belum selesai terpecah.

*Tentang setia

Sempurna !!!

Gugusan bintang ini menemaniku. Kedipnya seolah mengatakan, "Ada apa denganmu?" 
Aku seperti melihat ribuan kunang menari berputar mengeliling raga indahmu, bercahaya...
Dan itu aku melihat ratusan bunga krisan  terlukis di rona wajahmu, berwarna, beraroma...
Lihat matamu, apa itu ?? seperti sungi dari pegunungan bening, hingga wajah malam tergambar di sana...
Tak ketinggalan lengkung sabit terlukis disenyummu, menggantikan tangismu...
Kau tau ada desir aneh yang merambat pelan dari denyut nadi ke detak sanubari. Terdengar seperti alunan melodi pagi, sejuk...
"Apa yang terlihat kau begitu sempurna malam ini?" dan kedip bintang yang lainnya masih memainkan sinar ciptanya menanti jawaban

"Cinta. Itu saja"

Terima kasih pinangan itu...


Dia yang pertama membelai wajah manja dengan ujung jemari.
Hingga menyerupai denting irama kecapi dan berhenti di ujung bibir.

Debar ini tak lazim,hingga goncang seluruh tubuh
Seperti mendidih darahku, dan lemah setiap sendi-sendi tulangku

Kau tangkap jiwaku, dan kau bumbungkan ke puncak tertinggi.
Aku mendesah tak tentu arah, seraya pasti aku larut dalam pelukan itu.
Terima kasih telah kau beri aku indah hatimu dalam pinanganmu

Jumat, 27 Juli 2012

WANITA


maka lihatlah dia
wanita
bukan dengan hanya kedua mata

maka ciumilah dia
wanita 
bukan dengan mesra dan nafsu belaka

maka hormatilah dia
wanita
bukan dengan tunduk padanya

nikmati keindahan jiwa
dan keharuman aura pancaran hatinya
menghargai itu keinginannya
karena dia pemilik surga.

Aku telah meminjammu


aku telah meminjammu
di setiap hela dan hembus nafasku
untuk mengajarkanku 
memaknaimu dan menerima hidupku

helai cerita tercipta
dari halaman perhalaman yang bersekat
tentang perpisahan dan cinta
dan kumparan rindu yang maha

dulu aku enggan terbangun lagi
karena seketika pudar semua bias mimpi
pernah mengulang kembali
membangun mimpi yang tak terjamah lahi

disini waktu akan menguji
keberadaanmu disini
tetap mengurai hati
atau terdiam seorang diri

aku mencintaimu sekali lagi
rinduku masih tak beranjak disudut mentari

Aku menghargai kebiasaan



aku menghargai kebiasaan
seperti dahan yang menggugurkan daunnya
tentang musim
atau tentang tangan dan angin

aku menghargai tundukan kepala
seperti bintang yang tak datang jika rembulan sempurna cahayanya
tentang diam
atau kepasrahan dan penerimaan

aku memberi jemariku saat kau membutuhkan hangatnya
aku memberi keningku saat kau ucapkan kuakan setia
aku memberi percaya saat kau berkata akan kujaga
dan aku memberi jiwa ini saat kau bisikkan kaulah pialanya

tenang, dan tenang saat menerima kenyataan
biarkan semua berjalan sesuai dengan jalan tuhan.

Wahai Angin


Wahai angin,
terpa aku saat pejaman mata tak mampu terbuka
padamu telah ku pinang sebait sajak
untuk kau sandingkan dengan rembulan

wahai angin,
desahmu kunantikan, agar sejuk ladang gersang ini
menganai rintik-rintik hujan

pada langit telah kulukiskan seraut wajah diam
tak bersuara sembunyi dalam butiran hujan
pada bidak cakrawala aku telah bersuara
memanggil mendengungkan namanya

dia membebatku 
mengikat erat diujung naluri
bagai belenggu mengecam rasaku
menggengam laju jemari

Rabu, 25 Juli 2012

BEGITULAH CINTAKU


Cinta tak butuh bersujud di kakinya
Juga tak butuh pemuja pengakuan cinta
Atau baris-berbaris surat pengharapan

Aku mencintaimu
Seolah aku hidup diantara maafmu
Aku cintaimu
Seperti aku tumbuh diatas mengertimu

Cintaku sederhana, sesederhana memaknainya
Buatku saling memaafkan, dan menerima
Itu penghargaannya.

Dan aku memberikannya 
Setulus yang aku bisa karena itu aku cinta

Untuk siapa??


Wahai angin,
terpa aku saat pejaman mata tak mampu terbuka
padamu telah ku pinang sebait sajak
untuk kau sandingkan dengan rembulan

wahai angin,
desahmu kunantikan, agar sejuk ladang gersang ini
menganai rintik-rintik hujan

pada langit telah kulukiskan seraut wajah diam
tak bersuara sembunyi dalam butiran hujan
pada bidak cakrawala aku telah bersuara
memanggil mendengungkan namanya

dia membebatku 
mengikat erat diujung naluri
bagai belenggu mengecam rasaku
menggengam laju jemari menari menuliskan sebuah puisi
untuk siapa? 
untuknya yang tak mampu kusebutkan namanya

Kamis, 19 Juli 2012

ANTARA HUJAN DAN AKU



SEMALAM HUJAN SAYANG?

Kau ingat tentang hujan, tentang derainya gerimis yang tiba-tiba datang, tentang desir angin yang tiba-tiba kencang. Mengacak-acak gerai rambutmu yang panjang terurai dan basahnya hingga di setiap ujungnya.
Kau masih mengenangnya? dimana saat kita berteduh dibawah pohon rindang, masih dengan gerimis yang mengusik pandangan kita.
Dekapan ragaku telah menyentuh jari jemari sukmamu. Kau tersenyum. Aku mengatakan aku suka bias itu. Yang terpancar dari bilik retina yang tak sengaja kutangkap melalui sorot mata tajamku.
Apa yang kau rasakan saat itu, sama persis dengan detak jantung yang cepat memacu.

Hujan Juliku, telah menjadikan kenangan seumur hidup. Sepintas hanya seberkas kisah biasa yang dituliskan pada lembaran tak bertinta. Bahkan bukan sempurna. Namun untukku. Hujan kisahku ini,
membawaku tak lelah bersembunyi di jelagarnya waktu. meski pergantian musim telah menjadi putaran masa menjelang selanjutnya.

Semoga semalam masih hujan sayang?

Agar aku bisa terus menikmati bias kenangan itu. Meski semua hanya lamur mati di jiwa yang tersembunyi.
Agar kisahku dan kamu saat hujan itu, masih menjadi kenangan tersendiri, sampai nanti aku lelah ikut bersandar di sisimu abadi.

aku enggan kehilangan itu


aku tak mau kehilangan itu
meski itu harus dilakukan
ada yang salah pada kisah ini
bukan kisahnya tapi pemainnya