Jumat, 14 November 2014

RAIN

Senja
hujan
dan perasaan?

hujan
senja
di hari ke tujuh bulan november

selamat hari senja,
pria bermata hujan
seribu gerimismu datang
menetes diam diam
di ujung sepatuku

saat aku
dan wajahku
terbuka di dalam jendela

seperti kicau burung gereja
yang telah jatuh cinta

selamat hari senja,
kutemani jalanmu
meski hujan memekik
merayakan suka
luka
merayakan cinta

Rabu, 29 Oktober 2014

Bangunkan aku... Janji!

dan bangunkan kembali aku, janji..
seperti tak lelah senja membisikkan kata-katanya
redup..pasrah
seperti makna bahagia pada sebuah kecupan
kita enggan untuk membaginya
(aku tersenyum)

selalu ada yang benar disana
diujung kota kedua matanya yang purnama
harapan adalah waktu yang kerap membangunkan
dari benar, rindu dan kesungguhan

bukan tentang cinta
bukan pula tentang hati
tentang pinta yang dijatuhkannya
pada sematan matahari
kuselipkan benihnya
seperti aku memberi nama pada sebuah judul cerita
dalam....sangat tenang

(aku tersenyum)
mencintaimu...adalah diam

Tanya bertanya

mengapa?!

lagi, akhirnya ada perjalanan kecil yang membuat aku terikat
senyum sumringah, kala bait-bait sederhana mulai terumbar
dari lagu atau sepenggal sajak

tentangnya sang pembuat ceritalah saksinya
dan aku terima

aroma lelah telah menutup kegelisahan
dan terbaca lewat ciuman bibir
dan kau menunduk dan malu

resah.

Memahami

yang aku pahami
ketika cinta memberiku rasa bersalah

seperti setangkai ilalang yang telah habis terkikis penantian hujan
aku hanya ingin menjadi sejatinya kehadiran tanpa perpisahan
begitu yang sempat kubaca dari kedua matamu

lalu aku bertanya, apa yang kau tulis?

dari sepanjang koridor waktu ada luka yang begitu berharga
ada pedih yang habis untuk di tangisi

membaca dari langkah jenjang kakiku
senja itu...

aku hanya harapan dari sebuah kata kata "iya"

10 > 10

pukul sepuluh dari tiga tahun lalu
puisiku,
bagaimana kabarmu?

hanya sekat lima menit dari yang tersisa

satu pinta, sebelum satu kereta membawamu
"cinta akan mencarimu, seperti cinta pula akan menemuiku"

pukul sepuluh dari tiga tahun lalu

Kamis, 23 Oktober 2014

Boleh Kusimpan Rusukmu..?

Aneh,
ada satu detik dimana aku mati-matian memohon,
jangan hiraukan kepergian
lalu beberapa kali kosong menyambangiku

seperti kalimatmu...
dan biarkan kita bermain diatas mimpi kepedihan
menganyam luka seadanya
menukar tatapan pada langit sunyi

seperti luka yang kutoreh terhadapmu,
begitulah kepercayaan .."terlalu pedih, sayang" ucapmu tertahan

benar, kukatakan padamu
aku pernah mencarimu
kepada malam yang dijinakkan fajar
aku mungkin dusta yang tertampar

sampai kita rela bertukar curah
sampai langit melumat habis pita senja
dan aku harus terima, hati mana yang akan kau jaga
Boleh kusimpan rusukmu...? ujarku

SUMA

Dalam hitam putih, aku terpaut
mematuki sisi jalanku
separuh senyum, kau tunggu
separuhnya airmata, tetap kusembunyikan
maaf, aku hanya ingin berkisah tentang sepasang angsa yang bercanda di bawah bulan
lalu kau simpan bisikannya
”aku tak percaya, ketika luka dapat kau jelma menjadi puisi indah yang kau bacakan setiap saat, sebelum aku pergi tidur”
tak apa, aku hanya sepotong impian yang terwujud dari senyum-senyum kecilmu
terbang membulat
menaburi binar, sepi yang kau miliki
aku, napasmu
-sas-

Rabu, 22 Oktober 2014

puisi SAS


Jika cinta salur keindahan erotis di atas lekuk pelangi
aku mempercayai cinta adalah hujan, 
serangga kecil yang bersembunyi dibalik daun dan gugur bunga jambu
dan biarkan kita bermain diatas mimpi kepedihan
menganyam luka seadanya
menukar tatapan pada sunyi langit
cinta mungkin ladang mendung ditengah malam, ketika para penyendiri melantunkan syair puisi, yang menggantung di pelupuk redup
cinta mungkin juga hujan yang kumaksud
membelah sepi
mengubur cekam dalam pejam
membiarkan puisiku jatuh, tak mampu kutulis lagi


-sas-

Semoga Kau Bahagia

Semoga Kau Bahagia
akhirnya malam ini aku mengingat sebuah kelahiran, berkawal jarum jam dinding yang begitu dingin
mungkin terlalu lama tersimpan dalam kepenatan gerak mataku

aku tak ingin ada harapan yang harus kita singkirkan dari berpuluh-puluh bayang lilin
yang kau hembuskan dari beku bibirmu
lalu musnah menjadi tatapan jauh

mungkin kita hanya butuh sebuah kehadiran dari penantian-penantian panjang yang kerap kita tulis berlapis-lapis di tengah malam
sekuat keinginan berada dalam pelukan yang membenak

malam ini, jadilah satu kerlip dari jutaan gelap yang berjatuhan di mataku
agar kutangkap hadirmu
dalam hangat puisi

*darinya S

Rabu, 16 Juli 2014

DI STASIUN SUNYI



Di stasiun sudut kota
kau menguapkan ikrar diatas abu-abu
menjadi butiran debu

dari sudut langit yang hitam
helai air mataku lepas
jatuh bercecer diatas jalan-jalan basah

Di stasiun itu
kau keluar bersama aroma tubuhmu yang hujan
menyimpan rahasia roman
"Sstt...!" bisikmu sesyahdu bayu

tidakkah aku hanya sebuah rindu yang tak terbaca
dari lengkung maya matamu?

jatuh aku ditepian sunyi
secepat lengang stasiun itu
sebelum hela nafas hilang
tak berpesan..juga tanpa ciuman.

Minggu, 13 Juli 2014

HAMPIR SEPEKAN

hampir sepekan, kita lupa caranya mengeja kalimat romantis
kabar kita tercekat hilang, tanpa ruang pembatas
tak ada yang bisa di ungkap selain diam
tak ada kalimat yang bisa diwakilkan selain kerinduan

hampir sepekan, kita menjadi tuna wicara
kedua bibir kita terkatup
menjadi file-file yang terekam rapat menjadi rahasia
tak ada yang kita punya selain berpegangan
tak ada detak yang terurai selain suara kita lantang memekakan

"jangan pergi..!" kata jari jemari kita
mereka berpadu saling menarik kuat
tak membiarkan genggaman kita jatuh

"bukankah tak ada yang lebih megah ketika mereka membaca cerita kita?"
kata kedua mata kita, meski dari balik sudutnya ada lipatan masa yang tak pernah berhenti menggulungnya...
meski disudut kerut tersimpan rindu yang satu persatu harus luluh...

sampai suatu ketika, lebih dari sepekan..
kita lupa cara melepaskan, dan tak akan lupa cara mencintaimu.
menjadimu dan punyamu.

Dan paragraf begitu singkat,
aku menulis cinta pada bekas luka, dan engkau disana tabah menyusun huruf demi huruf yang tereja.
Sampai narasi bahagia adalah akhir sebuah cerita yang bersahabat disela rindu sampai tunduk kepada air mataku.

Aku Sebuah Kenangan

di meja ini aku seperti mu
melihat garis bentang kota yang bertaruh atas nama rindu

kita adalah anak-anak hawa yang dilahirkan oleh cinta
meskipun kelak mimpi menuntunmu untuk beranjak pada tiang dermaga

mungkin hening telah merubahmu kepada sosok angkuh
sang pengembara, sampai engkau benar-benar buta tak membeda arti cinta

Aku!
adalah angin yang monoton menunggu
disebuah dermaga kecil, menunggu mata layar sampai menemuiku
dan aku adalah, kebisuan yang begitu lengang ditanganmu
sampai kenangan melambat, tak tau caranya terselamat.

BERKHAYAL!


Berkhayal!

Aku pernah terbunuh pada suatu peristiwa ketika aku terlalu asik menyimpan rahasia.
Sampai engkau tak pernah mengingatnya, dimana kecupan terakhir kau daratkan....