Rabu, 11 Juli 2012

Kejujuran ku pada bisikan cinta


Percayalah...
Ini bukan akhir syair yang pernah kubacakan
Dari celah dedaunan,
Pada sayup suara tawa yang pernah terdengar
Ada titipan kerinduan

Suara itu memanggilku,
Membisikkan nyanyian dari guratan-guratan pilu.
Aku tak akan berkemas, juga tak meninggalkan bekas
Hanya sedikit bergeser dari sebuah kisah

Syairku adalah kisah-kisah malam yang diam,
Tangis, tawa dan genggaman jemari adalah keheingan
Entah...kapan, aku mampu melepas rintik
Sembunyi dalam curah hujan yang terbiasa berbisik

Untuk tentram yang pernah kau bagi,
Pada tawar yang pernah terukir di sanubari
Melalui pelukan aksara
Izinkan aku berkata...

Terima kasih cinta pada pertemuan dan kepulangan kemarin.

** malam, begitu lelah untuk bersandar, dalam tangisan sunyi.

HILANG ...



Dengarkan apa yang hilang, adakah yang tiba-tiba musnah. 
Sejenak suara itu lengang, sejenak membekas. Mengisi relung hati yang telah terdiam sepi.
Telah kusiakan rasa yang singgah, telah kupatahkan jiwa yang lelah. Luruhku memudar, seiring berhentinya kabut yang berputar. 

Kusangka kau ada, tetap tersenyum layaknya itu. Tak kupejamkan sejenak mata ini, 
Hati ini masih tak bisa percaya, bahwa kau telah hilang disana. Tak terjelaskan apa angin telah alpa menyampaikan pesan, 
apa Rindu masih tersimpan. 

Tiadamu tak terpahami, untuk mampu berdiri menikmati sendiri, menjalani...

Ternyata harus kubiarkan hening ini tak bergeming. Melelapkan mata, melepaskan asa. Aku harus tirakat memaknai rindu.
Pada malam, pada kerlip gemintang. JUga ketika sentuh lembut ilalang menyembunyikan. Langkah kaki harus berayun pasti. 
Dan gerimis indah menyatu dengan bumi. 

Mendengar sendu nyanyian surga, mencoba menikmati heningku sendiri, memeluk batin ini.

Jumat, 06 Juli 2012

Coretan Intuisi


Kupetik beberapa bait tulisan dari Coretan Intuisi, yang aku suka.


Aku tidak akan menjanjikan apapun dalam sumpah keramatnya cinta,
Ketika kesadaran hati berupaya melembutkan hasrat yang kian semarak mengelilingi nurani. Lantas, kesederhanaanku adalah simbol simbol yang terpasak dalam hati oleh moyang ketika sebelum kelahiran.

Hanya saja hatiku yang mengatakan tanpa terwakili oleh sang lidah bahwa kedua tangan dan kakiku sememangnya tulang yang rawan pada keretakan.

Namun tidak pada hatiku seumpama yang pernah kau saksikan ketika hujaman panah berwajah ramah hendak menusuk-nusuk pusat ulu hati.

Dan karena tersenyumku adalah tujuan mengapa anugrah itu telah menyatu pada kehidupan.

Hanya hati saja yang mampu kau tabur benih ketulusan serta kesyukuran atas airmata dalam tahta keikhlasan.

Jiwaku kian berseru menuju arahmu tanpa memperdulh kejamnya kisaran waktu dan pedihnya ranjau jarak yang terbentang seolah siap menjunamkanku pada tebing jurang yang teramat dalam.

Lantas, tingginya harapanku padamu seolah keajaiban jembatan penyebrangan melangkah ke taman hatimu yang penuh dengan ketenangan.

**aku tak bisa berkata, bagaimana cinta itu, aku hanya mengerti dan merasakannya. Seperti kesederhaannnya utnuk memaknainya. 

Kamis, 05 Juli 2012

PENAKU TERDIAM


Penaku terdiam,
Pada goresan kata terakhir sebuah cerita

Penaku mati,
Pada tarian jemari aksaraku terhenti

Aku mencari mata, dimana ada pacaran surga disana
Aku juga mencari makna, disetiap kata di punggung asa

Jika nanti ada satu saja pesan tersimpan
Akan kugugurkan keringnya dedaunan
Hingga aku siap melewati jejak kaki
Yang pernah tertimbun benci di relung hati

Aku tak kan kalah, pun menyerah
Meski asamu hilang, rindumu resah

Sungguh aku rindu jiwa resahmu





Rasaku menjulur susuri lubang ari

Terselip pesan kerinduan pada muara hati

Desir-desir rindu diam menyisir
Merajuk kalbu pada titipan syair

Sungguh aku rindu jiwa resahmu
Untuk kembali menembus mimpi pada ladang biru

Aksaraku kutaburkan bulir-bulir rindu

BERCUMBU SEPI, TUBUH SENDU


Bercumbu sepi
Berpagut manja pada bibir indah sang rembulan
Terjerat niat pada dada bidang malam
Terlipat, terdekap di kesunyian

Semalam,
Diam hempaskan raga yang tersekap
Lamunan menjerat hasrat tersirat
Pada selembar memory tersingkap

Di sela reranting bunga kuning
Berujar pada dedaunan kering
Aku akan bersahabat pada dewi malam
Yang acap kali rindu menitip salam

Tak akan kusunting gugusan bintang
Karena ribuan kunang melayang-layang
Menjadikan jiwa kelam ku akan terang
Hilangkan ragu pada sekawanan bimbang

Angin melunglai tubuhku 
Dirajah sendu...

Kisahku, Februari awalku...

Sadar, kesadaran yang tak berbatas. Pada ujung waktu yang tak berawal, akhirnya ini pengakhirannya. Dengan rasa ikhlas, pada rentang tangan dalam kebekuan...terima pada kenyataan. Sedikitpun cinta itu tak berbeban,  bisa dinamakan tak bertuan. Karena rasa itu tak pernah terkatakan. Namun hati enggan berdusta tentang derita kepergian.

Biarkan sunyi menyelinap diam,  diantara curah yang deras  di balik pintu yang sedikit terbuka. Aku yang tak bertirai, kehilangan  yang hilang namun bukan cinta yang kau rasa.

Tak ada yang indah seindah bulan ini, Februari. Mengingatmu dengan segenap bulir kenangan yang tersisa. Juga terising detik per detik saja, terekan dalam ingatan, masa. Untukmu..yang terdalam mengalir dalam sebuah kisah...

***
Jumpamu, di antara sapa. Di dalam ruang antara riuhnya tembang dan nyanyian. Dan silaunya sinar, aku menemukan di balik halaman. Kau dan punggung itu..Kau yang bertuan dalam percakapan diam, diam...dan bungkam. Pada aksara ku jumpa, pada sapa terlanjutkan dengan tawa. Mulai terdengar suara, riuh manja.

Seperti mendengarmu , bisikan-bisikan itu pesan atau nyanyian surga yang melega. Kau cerita yang terlahir  dengan ke sia-siaan. 
“Kau baca aksaraku?” tanyamu kala itu
“Yang mana?” jawabku
“Semua, mungkin dari ketika saat dingin menghampiriku”. Jawabmu.
Februari, ku dapatkan beberapa syair itu. Yang bisa kau ambil dari sekelumit catatan usangmu. Dan saat kau, berikan ini untukku ...(kau ingat ini)

dan damailah hatimu 
arungi laut kehidupan
dan kaulah nakhodanya,..

ku berikan satu rahasia padamu 
keahlian terakhir para nakhoda 
kerelaan tuk memberikan hidupnya pada lautan
adalah karena cinta...
salam

sampai jumpa disamudraku...

lagi...Februari itu adalah bulanku.
“Tak kau baca 21 februari beberapa jam yang lalu..” pintamu, tentang hujan,  saat kau pulang menembus hujan. Rona merah jambu kala itu.


Hingga satu yang masih menjadi pertanyaan, dan hampir terlupa bahwa itu membutuhkan jawab...”Panggilan apa yang terbaik dan kau suka untukmu..?”  ..kembali terdiam

“dan bila pun malam,  jika kau rindu, cukup bisik selembutnya angin,....dari aksara yang kau suka,...”

aku ingin kamu senyum,...
aku ingin kamu bahagia
aku ingin kamu kuat
karena inilah bagian dari hidup 
jangan pernah bertanya kenapa berat deritamu
tapi kau sendiri pasti yakin, bahwa Dia tak menguji manusia diluar batas kemampuannya,...

Kisah ini biasa, namun hadirnya membuat apa yang terbaca menjadi luar biasa. Sedemikian indah dan sederhana itulah aku memaknainya.

Laluku, karena mencintaimu, laluku pada anugerah Tuhan yang mesnyisakan hembus nafasku untuk membaca semua aksaramu. Sepanjang nafas itu menuju rentangan waktu. Kelak akan kumaknai rasa ini, menjadi anugerah indah yang sesaat pernah termiliki.

Menyerah, pasrah, dalam kesiaan  rasa yang lelah. 

“Jika saja, rasa ini yang diharuskan untuk undur diri. Tak kan kuingkari. Tak kan terkejar, sebab dahan-dahan itu telah tumbang, dan cabang rindang telah bersaksi bahwa...dia kisahku.

Rabu, 04 Juli 2012

kuambil pesan dari catatan tentang february 2012

kau buntal semua syair ku
kau kemas dan kau berikan
aku kira kau sedingin gunungan salju
di kutub utara
maksud, makna ku dan kemasan kirimanmu...

aku sangka kau seangkuh tembok berlin
ternyata praduga ku berlebih padamu...
kau hanya sama
jiwa sama yang punya lebih dalam
sebuah kata
...
aku suka.
 ****

tiada maksut tuk memuji,..
kuagungkan kerendahan hatimu,...

tiada maksud aku tersanjung
tapi memang itu yang harus dilakukan
merendah untuk salah yang dilakukan

****

20 november 2011

maka terjagalah bunga mawar,..
dengan duri yang menjaga kelopaknya,..
tersucikan harumnya,..

***

didepan,
hanya bisa memandang
memaksa tersenyum
terbalas
dan menghilang

seperti manatap
satu punggung, tanpa wajah
kekakuan
dan rasa bersalah

entah
kapan kekauan itu hilang,
padahal sapanya
ternantikan...

terbalas,
saat sakitnya mencoba terasakan
hmmm...
kuhilangkah ego, kurendahkan hatiku
untuk mengucap kata maaf,
menyuci jiwa dari rasa bersalah...

makasih ya...

***

kau tak menatap punggungku,..
tapi aku berdiri didepanmu,..

***
kau baca semua aksaraku?

yang mana

semua,..mungkin dari ketika aku mulai dingin padamu

***

15 februari, syair lama untukku..

***

SC

dan damailah hatimu
arungi laut kehidupan
dan kaulah nakhodanya,..

ku berikan satu rahasia padamu
keahlian terakhir para nakhoda
kerelaan tuk membrikan hidupnya pada lautan
adalah karena cinta...
salam
sampai jumpa disamudraku...

***

17 februari, di catatan 4me

***

21 februari, hujan untukku, pulang menembus hujan

***

21 februari untukku juga amarant merah

***

panggilan apa yang terbaik dan kau suka untukmu?

***

22 februari, kamu yang memberi nomor terlebih dahulu

***

25 februari

***

dan bila pun malam, jika kau rindu, cukup bisik selembutnya angin,....dari aksara yang kau suka,...

***

aku ingin kamu senyum,...
aku ingin kamu bahagia
aku ingin kamu kuat
karena inilah bagian dari hidup
jangan pernah bertanya kenapa berat deritamu
tapi kau sendiri pasti yakin, bahwa Dia tak menguji manusia diluar batas kemampuannya,...

MASIH...


Nanti tiara itu akan kuanegerahkan, 
Yang dulu pernah ku ikrarkan padamu,
Terukir jelas dalam guratan sanubariku.

Saat malam-malam sebelum semuanya hilang,
Pada syair yang kureguk dalam kisah semu.
Saat dulu kau tanyakan padaku
Mengapa kau begitu merindu??

Aku memilihmu, menjadikan biasmu adalah mimpiku,
Untuk sedetik harap hadir di kalbumu.

Saat harus kumaknai jatuhnya rintik gerimis,
Yang jatuh membasahi bumi. 
Saat harus memahami, bagaimana awan hitam
Menggantungkan butiran hujan...

Begitulah, masih merasa kesepian..
Bahwa melati tak akan pergi meninggalkan seberbaknya
Menaburkan benihnya di atas tunai seminya.

Mungkin rentang waktu ini bukan untuk kita. 
Mungkin pula tak bisa teraba, kapan mentari akan menggulung senja
Merangaskan ranting-ranting kering, menjadi selimut pada danau kering
Menggantikan daun-daun kering menjadi butiran embun

Pada balik bimbang, kuceritakan tentang beningnya rasa mengalir.
Pada rasa yang entah, bertahan dalam diam, memaknai sendiri.
Hanya kamulah yang mampu memahami, isi dibalik syair ini.
Bahkan surya itu tak lagi bisa membayangi.

Dalam lelah, simphony ini ku isi,
Aku tak mau kalah, pasrah, meski separuh jiwa lelah, rinduku lemah,
Namun sepertiga hati masih bergelayut manja di bahu ini.
Masih menanti...menanti di lubuk sanubari.

Selasa, 03 Juli 2012

Padanya yang akan selalu menjaga rasa.


Jika ini catatan akhirku, sebelum temaram bulan tersamarkan. Ku serukan salam terakhir padamu, sebelum riak gelombang mengapusnya. Kau yang pernah menjadi sekawanan camar yang menjadi hiasan indah di sebentang samudra, bersahutan dalam nyanyian an kidung sukma.

Senja, telah buyar, kini tinggal serpihan-serpihan kecil yang terbuang. Yang tak satupun enggan kukumpulkan. Tersingkap di barisan kalimat, yang kuberi nama puisi...

Aku akan menyelesaikan seribu syair yang akan mmenjadi pertanda, bahwa aku tak akan sia-sia. Aku akan lesatkan syair  rindu dan menyisipkan kalimat tabah dalam setiap dengung takdirku.

Padamu yang telah mengajarkan mimpi saat terpejam, pada peraduanku setiap malam. Bahwa hidup ini akan terus berjalan , sayang. Saatnya pergi...mengakhiri nyanyian hati. Mengakhir kata yang pernah menjadi rayuan saat diperaduan. Biarkan langkah mu tak terhentikan sampai di setiap mili nanti kau akan menemukan, aku  akan jalanmu.

Padanya yang akan selalu menjaga rasa.

aku akan membuatmu tersenyum meski tanpa aku


Dan aku,  aku yang telah menghunuskan sebilah pisau di balik sayapnya. Telah menikamnya tepat di jantung hatinya. Yahh...aku telah membunuh diriku sendiri. Dengan mengabaikan hati, tak merasakan sejuk embun yang diciptakan. Aku dusta pada hati, membiarkan pergi berlalu, meninggalkan bayangan semu. Aku tak pernah tahu...

Selama ini senyum itu selalu menapaki jejak kecil yang  ditinggalkan debu.  Selama ini sabarnya menggengam rahasia untuk terihat tetap bahagia, dengan senyum yang masih tak mampu ditinggalkannya.

Malam ini bulan tak lagi menemani, hanya sendiri menikmati kerlip kejora. Kemana dia?
Tangis malam, hadirkan sebuah kisah. Kemana  perginya bait aksara yang pernah kuciptakan untuknya. Dengan sajak-sajak kecil itu, tentang rindu. Hanya itu, tak cukup bagiku, kau yang telah melukiskan bias senja  pada barisan tawa.  Kau juga yang telah memberi warna pada bentangan cakrawala.

Maafkanlah aku..

Padanya jendela nyata terbuka, hadirku telah tiada, diujung pena, atau di sumber suara yang pernah kutinggalkan untukmu. Jeda itu tak mungkin menjadi tanda koma, semua akan berlalu. Jatuh pada rasa yang terluka, dan umbar tawa perihnya. Akan kuhapus buramnya, dengan sentuh air suci, bening. Merasuk dan mendalam di sanubari.

Hadirku kembali ingin memberimu kabar bahagia, bahwa meski  tanpa aku akan membantumu tersenyum .

Keajaibanku


Denganmu keajaiban itu.  Bekuku saat malam per malam tanpamu. Bayang itu menyelinap merangsuk di sela tidurmu. Membelai menyanyikan kidung mimpi. Sebab kau masih sebuah mimpi, yang tak pasti.

Demi , dengarkan serapahku yang kulantunkan melalui goresan pena ini. Asa ini mengalun sepi  yang mampu memecahkan melodi. Kau yang membiaskan malam per malam dengan taburan kunang. Engkau yang telah menyemai benih embun di sela rerumputan, pada bisikan masa yang masih samar. 

Demi, ingin ku benamkan luluh rinduku pada pelukanmu. Betapa sangat ingin kuhujamkan kalimat cinta pada aksaraku, saat mengiringi desir jantungku yang masih berdetak menyebut kalimat ...

Aku cinta padamu

Maaf ragaku kutinggalkan di sini...sendiri.


Senja itu mulai memerah saat kujatuhkan mimpi disepanjang langkah.
Sepi...sendiri

Sayangku,
Masih ingatkah sentuhan itu. Diujung rona indah kau tersenyum jelas. Disepanjang langkah tak ada kata pasrah pun tanpa menyerah. Namun malam telah menghadirkan rembulan untuk menyegerakan aku pulang...

Sayangku,
Setelah ingkar, kau dipertemukan. Pada kerinduan yang amat sangat perih,dan kemudian.. ilalang menyembunyikkan ranting kering membakarnya membara dan menyala

Lalu ketika murka, kau datang dan menata kembali cermin retak. Hening, aku masih tak menyadarinya. Pula kau telah membuat ku lupa, pada rasa dahaga. Pada rasa lelahnya memaknai semua.

Namun sayang, tak kulihat kembali cinta itu menuai nyata, sebab luruh pula hatiku, akan rasa yang sama, nun jauh disana. Hingga fatamorgana membiasakan di sepanjang kisah, di sepanjang cerita, pada penantian endingnya.

Dan..

Sayang...engkaupun terbangun, mendapati ragaku telah berubah menjadi sukma.
Maaf ragaku kutinggalkan di sini...sendiri.