Rabu, 21 November 2012

SETENGAH BERLARI MENGHINDARI




setengah berlari,
diantara rumpun-rumpun yang tumbuh subur diberanda jiwa

setengah berlari,
kusingkirkan pagi agar menjauh 
secepat pula menggapai matahari

setengah berlari,
saat keangkuhan fajar membuat menggigil kaku
diatas nurani yang terdiam

setengah berlari,
ketika tiupan angin menghanyutkan
dan kemudian menerbangkan

namun terhenti seketika, saat sisi jurang kebahagiaan
yang telah DIA ciptakan menjadi penggalan luka yang 
telah disandarkan.
lembut...
kemudian aku yang tak sungkan melukis sebentuk rupa
melalui cermin pantulan dari bias raga

sesungguhnya,
tak bisa menghindari apa yang telah menjadi kehendak-NYA

SETELAH AKU MENYADARI


selembar nafas ini adalah legenda
yang mampu bercerita tentang bagaimana kita mengembara
dalam hitam putihnya warna
seperti secarik kertas putih yang hanya jejak jejak
diri ditinggalkannya


:: aku menyadari bahwa 

"aku telah dilukis dijadikan legenda
abadi sang maha karya untuk nanti mereka baca dan ceritakan kembali"

KEKASIH KU



kekasih hatiku adalah segumpal daging merah
yang tertanam jauh didasar hati.
dia mampu membuat warna biru dan hitam 
di setiap detak kisahnya

kekasih hatiku adalah yang mampu menyentuh
keabadian, menghampiri ketegaran.

menikmati kekasih hati,
dalam nadi tadir setiap pesona
dan kilauan anggun dia (sang perasa)

SESUNGGUHNYA AKU CINTA




sesungguhnya,
tak mampu menyingkap rahasia tabir 
yang mengatas namakan cinta
kadang menyerah
tak jarang pasrah pada kekecewaan

bagaimana cara menjelaskan?


rentangan kedua tangan
biarkan angin membuai tubuh kita
sampai kita menikmati alurnya
dari yang tersembunyi sampai yang nyata

kau temui cinta, pada kekuatan yang memegangnya
saat sakit keangkuhannya atau rapuh kala memaknainya
kau menyapanya, saat lembut seperti keindahan yang ditarikan
bidadari surga, mereka mengejar dan berkata..

"menarilah denganku cintaku, biarkan sementara belati 
tersembunyi di sayapku..menarilah dengan kebenaran jiwa
jika cinta telah menyapa"

dengan keterbatasanku, biarkanlah sang pujangga
yang mengartikan puisiku,
dan menuliskannya di kanvas sucinya
biarkanlah dia yang menyulamnya menjadi jutaan puisi
aku tak bisa, aku tak mampu

karena aku menikmati keharuman cinta, itu saja.






BAYI ITU BERNAMA PAGI



Bayi itu bernama pagi


baru saja lahir
dari rahim hujan yang sepi



matahari di pintu
masih menjaga jaraknya



Aku dan pagi adalah dua kelahiran hidup yang sama-sama bernadi waktu
di ruang detak merambat kita saling menyapa



lalu cinta dengan piawai
mengajarkan keindahan dalam perjalanannya



Mungkin sudah saatnya rekah bunga tersemai dari taman-taman jelita 
semerbak searah ranum senyummu
melintasi sapa pagiku



Pesonamu 
meramu hangat kopi 
di meja kayu bangku terasku



hai cinta
pagi ini kamu seksi lagi



* darimu untuk pagi yang entah...
darimu yang kuberinama KEBO

Jumat, 02 November 2012

Senja ini mengingatkanku



Dalam gerimis senja kutitipkan sebait puisi
ini untuknya


senja ini mengingatkanku
bagaimana cinta telah menyelimuti
dan menghangatiku
saat mentari
mengejang dan membawamu pulang
senandung rindu, lirih bersandar
hati kecil, dan perasaan
angkuh menerima dan membuang begitu saja
saat menatap bayangan di jendela kaca
pernah kau pergi
dan aku kembali
namun TUHAN tak mengizinkan takdir
menghampiri untuk saling mendekap

jangan perdulikan,



jangan perdulikan 
apa yang mereka katakan tentang
bagaimana rasa dipersatukan
biarkan menjadi air bening
yang mengalir dan kemudian menggenang
jatuh dari sebuah tebing hijau
menjadi percik embun kesejukan.

jangan perdulikan,
aku, engkau dan kita
biarkan cinta menjadi butiran embun
yang jatuh di ujung ilalang

SUMA AJI SWASANA



adalah perempuan yang memeluk puisinya
ia gulirkan syair mungil dari ketabahan menopang cinta 
di bahu tak berjeda
pada kedua kakimu

peluhmu menyusuri makna tersingkap di jalan berduri
lalu ketabahan merambat kecil menjalar di senyummu
: doa-doa memutih membalur suci

Lalu cinta kau pilih 
untuk kau sematkan di bulir bening bola mata buah hatimu

Kaukah perempuan yang melukis tetes-tetes bulan
di setapak sunyi jalan bertempu
mengais segala kekuatan
di rimbun pemantang tulusmu

Aku Mulai Takut Kehilangan

AIRMATANYA ADA KESENDUANKU




perempuanku,
ketika sebutir air mata jatuh 
diantara lipatan telapak tanganku
seolah mengendaplah seluruh aliran darah
dalam tulus seperti jiwa luluh 

entah...
bagaimana lagi kupuisikan kembali,
hujan, atau embunkah aku mengawali
atau kubiarkan saja aksaraku larut
tanpa satu makna yang tereja

perempuanku..
maaf, atas kesedihan yang kuciptakan
pada air mata yang kau teteskan
pada rindu yang kusandarkan
pada nyanyian malam yang kudengungkan

dimana aku bisa menatapmu,
kapan lagi aku menyebut namamu,
dari sudut mana warna jiwa kutemui lagi

kini, dihampar samudra aku mengucap rindu,
biarkan riak gelombang menyentuhku,
sepasang camar menyampaikan pesan
dan angin tenggara mendamaikan

aku rindu, aku rindu pada perempuanku
yang mengulang menjadi mimpi dalam bayangan
aku rindu pada pemahaman cinta
aku rindu pada senandungnya

Ya tuhan..
garis ini Kau yang telah suratkan
dan aku jatuh pada keindahan, keihlasan
dalam persembahan cinta pada perempuanku, 
yang telah kau miliki di surga

Ada janji hujan, yang datang november ini



ada janji hujan, yang datang november ini
ada embun yang enggan pergi
seperti sepasang merpati 
yang berputar mengelilingi sebuah puisi
tentang tulisan arti rindu
makna cinta tak pernah berhenti
atau sebuah kisah tentang kita
yach..
tentang dia, dan aku saja

Bagai embun yang membakar hujan



Saat ini, 
aku ingin engkau memelukku erat 
dan membisikkan bahwa engkau mencintaiku. 

Mencukupi sebagai penawar perih, 
serta menumbuhkan keberanianku 
untuk percaya bahwa engkau 
bisa menjaga dirimu sendiri

nanti..

Kepada mimpi bahagiaku melukis
di sudut bingkai kusemat suaramu
senandung lepas mewarnai langit
Bagai embun yang membakar hujan

ada yang tak sanggup kuucap hingga kini
terlebih bahagiaku
karena telah sempat kuberikan keluh rindu
sedalam pelukan yang kian erat merengkuh

kemudian fajar memecah debu
dari satu hingga seribu
kelak bulan kan meraut sepimu
sampai luruh tak bersisa

Pada kelabu kutambatkan hitam
Sedang debar tak seirama
Namun masih, kita berdiam
Mencairkan malam tanpa suara

Kepada nyata kuikhlaskan hidup
Menangguhkan setiap detak
Dan tetap mencintaimu
Dengan sepenuh nafasku

MAAF AKU RINDUMU KEMBALI




telah kupintal untukmu
helai perhelai benang maafku
untuk kujadikan jubah kerinduanku

dulu yang tak terlihat
yang tak terbaca
bahkan yang tak bisa termakna
yang menjadi catatan lama
hunian agenda rapuh

kau ingat
bagaimana saat senja
kita menyanyikan syair-syair rindu
dan bersandar pada pilar-pilar keihklasan
ketika tanpa tangis tanpa luka
yang seolah senja matahari enggan membenamkan diri

kau ingat sepasang sajak
yang pernah kita buat, 
dan kau memberi kedua sayap diantaranya
sembari berkata,
"biarkan sajakku tak patah
kan kubiarkan dia terbang. 
tak akan jauh melangkah, dia akan berputar
dalam sebuah pusara, menemanimu.
menemani tiap senja, menemani disisi untuk menulis kembali"

dan aku hanya terdiam,
dengan rona yang tak bisa tergambarkan.
"yang aku tau, syair ku adalah telaga 
kecil yang bening yang mampu kita berkaca
tak ada riak, tak ada debu yang mengotori
dan dia tak akan gersang meski musim
telah mengerontangkan"

selain engkau, syairmu lah yang membawa
kisah pada catatan takdir-NYA

SUNGGUH AKU MENCINTAIMU




duduklah disini
denganku di sebuah taman
dengan rangkulan mentari
dan pelukan pagi

hari ini ada yang hendak kubisikkan
dekatlah disini..

***

lihatlah bias warna dari sang fajar
menembus celah dedaunan yang perdu 
dan reranting-ranting kecil tertiup angin
aku ingin bersyair

ketika malaikat duduk bersanding
dia merengkuh gulanaku, dia biarkan membatu
dan beku.
namun kemudian dia persembahkan gerimis yang melunturkan tangis

ketika cahaya hampa datang menyapa
seperti jiwa yang ditinggal sukma
seperti jubah lusuh menyeret kesebuah tebing
terserak..

sungguh
bahwa cintalah yang menemukanku
membawa kembali satu persatu nafas
tak peduli, bahwa nanti belati bersembunyi dan menghujam
semoga ini akan kekal dalam bertahta disukma

dan TUHAN lah menjadi saksinya

***

dan sisa mentari masih menguliti wajahmu yang bersemu
memandangmu, memandangmu...selalu